Sabtu, April 09, 2016

KOMODO

Nama komodo pasti sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Hewan asli indonesia yang berasal dari pulau komodo ini ternyata merupakan reptil berbisa paling ganas di dunia dengan virus-virus yang dapat melumpuhkan mangsa dengan sangat cepat.

Komodo atau Biawak Komodo (Varanus komodoensis), merupakan spesies reptil terbesar di dunia yang terdapat di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara, Indonesia. Komodo yang ditemukan pertama kali oleh peneliti barat pada tahun 1910.
            Komodo (Varanus komodoensis) merupakan satu diantara 3 satwa nasional Indonesia. Komodo sebagai satwa bangsa mendampingi burung elang jawa (satwa langka) dan ikan siluk merah (satwa pesona). Komodo juga ditetapkan sebagai fauna identitas provinsi Nusa Tenggara Timur.



Ciri-ciri  Komodo
Di alam bebas, komodo dewasa umumnya mempunyai berat lebih kurang 70 kilogram, tetapi komodo yang dipelihara di penangkaran kerap mempunyai bobot tubuh yang semakin besar. Spesimen liar terbesar yang dulu ada mempunyai panjang sebesar 3, 13 m. serta berat lebih kurang 166 kilogram.
Komodo mempunyai ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, serta lebih kurang 60 buah gigi yang bergerigi tajam dengan panjang lebih kurang 2. 5 cm, yang sering diganti. Air liur komodo kerapkali bercampur sedikit darah dikarenakan giginya nyaris semuanya dilapisi jaringan gingiva serta jaringan ini tercabik sepanjang makan. Keadaan ini menciptakan lingkungan perkembangan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka.
Komodo mempunyai lidah yang panjang, berwarna kuning serta bercabang. Komodo jantan semakin besar dari pada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap hingga merah batu bata, sesaat komodo betina memiliki warna lebih hijau dari buah zaitun, serta mempunyai potongan kecil kuning yang ada pada tenggorokannya. Komodo yang muda lebih berwarna, dengan warna kuning, hijau serta putih pada latar belakang hitam.

Fisiologi
Komodo tidak mempunyai indera pendengaran, walau mempunyai lubang telinga. Biawak ini dapat memandang sampai sejauh 300 m, tetapi dikarenakan retinanya cuma mempunyai sel kerucut, hewan ini agaknya tidak demikian baik melihat di dalam kegelapan malam. Komodo dapat membedakan warna tetapi tak seberapa dapat membedakan object yang tidak bergerak.
Komodo memakai lidahnya untuk mendeteksi rasa serta mencium stimuli, layaknya reptil yang lain. Lubang hidung komodo bukan hanya adalah alat penciuman yang baik dikarenakan mereka tak mempunyai sekat rongga badan. Hewan ini tak mempunyai indra perasa di lidahnya, cuma ada sedikit ujung-ujung saraf perasa dibagian belakang tenggorokan.
Sisik-sisik komodo, sebagian diantaranya diperkuat dengan tulang, mempunyai sensor yang terhubung dengan saraf yamg memfasilitasi rangsang sentuhan. Sisik-sisik di lebih kurang telinga, bibir, dagu serta tapak kaki mempunyai tiga sensor rangsangan atau lebih.

Sistem Reproduksi Komodo
Musim kawin Komodo berlangsung pada bulan Mei serta Agustus, serta telur komodo ditempatkan pada bulan September. Sepanjang periode ini, komodo jantan bertempur untuk menjaga betina serta teritorinya dengan langkah bergulat dengan jantan yang lain sembari berdiri diatas kaki belakangnya. Komodo yang kalah dapat terjatuh serta terkunci ke tanah. Ke-2 komodo jantan itu bisa muntah atau buang air besar saat bersiap untuk bertempur.
Pemenang pertarungan dapat menjentikkan lidah panjangnya pada tubuh si betina untuk lihat penerimaan sang betina. Komodo betina berbentuk antagonis serta melawan dengan gigi serta cakar mereka sepanjang awal fase berpasangan. Setelah itu, jantan mesti seutuhnya mengendalikan betina sepanjang bersetubuh supaya tak terluka. Tingkah laku lain yang diperlihatkan sepanjang sistem ini yaitu jantan menggosokkan dagu mereka pada si betina, garukan keras diatas punggung serta menjilat. Kopulasi berlangsung saat jantan memasukan di antara hemipenisnya ke kloaka betina. Komodo bisa berbentuk monogamus serta membentuk pasangan, satu karakter yg langka untuk kadal.
Betina dapat letakkan telurnya di lubang tanah, dengan cara mengorek tebing bukit atau gundukan sarang burung gosong yang berkaki-jingga yang mana sudah ditinggalkan. Komodo lebih senang menaruh telur-telurnya di sarang yg sudah ditinggalkan. Satu sarang komodo rata-rata diisi 20 telur yg dapat menetas sesudah 7–8 bln.. Betina berbaring diatas telur-telur itu untuk mengerami serta melindunginya hingga menetas di lebih kurang bulan April, pada akhir musim hujan saat ada amat banyak serangga.
Sistem penetasan yaitu usaha melelahkan untuk anak komodo, yang keluar dari cangkang telur sesudah menyobeknya dengan gigi telur yang dapat tanggal sesudah pekerjaan berat ini selesai. Sesudah sukses menyobek kulit telur, bayi komodo bisa berbaring di cangkang telur mereka utk sebagian jam sebelum saat mengawali menggali keluar sarang mereka. Saat menetas, bayi-bayi ini tidak seberapa berdaya serta bisa dimangsa oleh predator.
Komodo muda menggunakan tahun-tahun pertamanya diatas pohon, area mereka relatif safe dari predator, terhitung dari komodo dewasa yang kanibal, yang lebih kurang 10% dari makanannya yaitu biawak-biawak muda yang sukses diburu. Komodo memerlukan tiga hingga lima tahun untuk jadi dewasa, serta bisa hidup kian lebih 50 tahun.
Di samping sistem reproduksi yang normal, ada sebagian perumpamaan masalah komodo betina membuahkan anak tanpa hadirnya pejantan ( partenogenesis ), fenomena yang juga diketahui nampak pada sebagian spesies reptil yang lain layaknya pada Cnemidophorus.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar