Psikotest dapat didefinisikan sebagai suatu metoda untuk mendapatkan suatu sampel
tingkah laku seseorang dalam situasi yang standar. Dapat dikatakan juga
bahwa test adalah suatu ‘contoh’ tingkah laku dalam situasi. ‘Contoh’ tersebut
diregistrasikan sebagai hasil test dan merupakan tingkah laku yang akan selalu
ditunjukkan oleh seseorang dalam situasi yang sama. Situasi yang standar
diartikan sebagai kondisi-kondisi yang sama bagi semua orang yang ditest. Jadi
Psikotest bukanlah dapat disamakan dengan ujian mengenai pengetahuan. Psikotest bukanlah sesuatu yang perlu
dipelajari atau dipelajarkan. Banyak orang yang salah mengerti tentang
Psikotest, terutama orang-orang yang menganggap test itu dapat dipelajari dan
mereka yang berorientasi pada status, bukan prestasi, sehingga mereka berusaha
mempelajari Psikotest dengan cara-cara tertentu dan melakukan pemalsuan atau
penipuan (cheating) dengan
pertolongan seseorang yang sedikit tahu tentang Psikotest atau bahkan dari
seorang psikolog yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian ia mengira akan
mempunyai kesempatan untuk maju dalam karirnya. Tetapi dengan demikian justru
ia menipu diri sendiri dan merugikan organisasi.
Adapula
orang yang merasa takut jika ia diharuskan menjalani pemeriksaan psikologi,
karena sebetulnya ia kurang memahami Psikotest secara betul. Mungkin sikap
seperti itu juga dibarengi dengan kecurigaan yang berlebihan ataupun rasa
kurang pasti pada diri sendiri. Tentu hasil Psikotest mereka itu tidak akan
menggambarkan kemampuan yang sebenarnya, dan bahkan hanya memperlihatkan segi
tertentu dari watak atau kepribadiannya saja. Oleh karena itu sebaiknya dalam
menghadapi Psikotest orang bersikap wajar dan tidak dibuat-buat, namun
sungguh-sungguh mengikuti instruksi pengetest atau psikolog yang memeriksanya.
Lain
halnya dengan orang yang atas kehendak sendiri meminta bantuan kepada psikolog
untuk diperiksa. Ia akan mengahadapi pemeriksaan psikologi dengan sikap yang
lebih terbuka. Maka hasil suatu test sangat tergantung pula kepada sikap yang
menjalani test di samping kepada situasi pemeriksaannya. Situasi pemeriksaan perlu diciptakan sewajar
mungkin dengan kerja sama dan saling mempercayai antara pemeriksa dengan yang
diperiksa. Untuk itu diperlukan waktu yang relatif cukup agar psikolog
benar-benar dapat menciptakan suasana at
ease bagi yang diperiksa. Dengan demikian orang yang meminta bantuannya
akan merasa sangat bebas untuk mengutarakan pikiran, pendapat dan perasaannya
baik secara lisan maupun tertulis. Suasana yang penuh minat dan kebebasan itu
hanya dapat diciptakan oleh psikolog yang terampil dalam menyajikan test yang
memenuhi standar. Mahasiswa psikologi biasanya dilatih untuk mengembangkan
keterampilan semacam itu.
Namun
dewasa ini, di Indonesia ternyata banyak orang bukan psikolog juga memiliki
Psikotest dan menggunakannya dalam rangka seleksi, klasifikasi atau penjurusan
studi. Sepintas lalu tampaknya memang sangat mudah menggunakan alat pemeriksaan
yang disebut Psikotest itu, asal berpedoman kepada instruksi, cara menghitung
(menskor) dan mengevaluasi data, yang biasanya lengkap tersedia bersama alat
test itu disertai dengan norma dan validitasnya. Mungkin pekerjaan itu dapat
disamakan dengan mengukur tekanan darah dengan mudah oleh siapa saja yang cukup
cerdik. Akan tetapi sebenarnya pekerjaan semacam itu menuntut selain
pengetahuan yang dalam tentang Psikotest juga tanggung jawab profesional dan
alangkah naifnya jika tanggung jawab profesional sekaligus sosial itu
dikesampingkan begitu saja. Oleh karena itu, orang harus berhati-hati dalam meminta bantuan psikologi dan perlu mewaspadai praktek psikologi yang
kurang memperhatikan tanggung jawab profesional dan sosial itu.
Sebaiknya
para calon pengguna jasa psikologi meminta penjelasan dulu kepada ‘psikolog’
atau orang yang memakai Psikotest sebagai salah satu cara menjual jasa, tentang
curriculum vitae yang bersangkutan,
terutama apakah ‘psikolog’ atau oknum lain itu benar-benar mampu dan berwenang
untuk melakukan profesinya dengan menggunakan Psikotest. Hal ini penting agar
para calon pengguna jasa psikologi tidak terjebak oleh catatan yang tidak
bertanggung jawab.
Psikotest dapat dilakukan secara
individual dan berkelompok. Pelaksanaan testing yang dilakukan secara
individual atau berkelompok (klasikal) harus memperhatikan syarat-syarat
tertentu yang standar, seperti ruangan yang cukup penerangannya, mempunyai hawa
segar, penyampaian instruksi yang jelas, mudah dimengerti dan lain sebagainya.
Kecuali jika ada maksud lain, misalnya menambah stress untuk kepentingan
standarisasi dan research.
Kebanyakan
orang mengira bahwa Psikotest itu serba mampu mengungkap semua segi
kepribadian, dengan lain perkataan tanpa keterbatasan. Sesungguhnya untuk dapat
dikatakan bahwa test itu baik, haruslah syarat-syarat berikut ini terpenuhi:
yaitu harus reliable, valid dan
mempunyai norma atau standar. Apabila semua itu telah dipenuhi, maka sebagai
alat ukur Psikotest dapat dianggap objektif. Sekalipun demikian tidak berarti
bahwa Psikotest itu sudah ‘sempurna, tanpa kekurangan’ (infallible). Hasil Psikotest dapat menggambarkan tingkah laku
seseorang dengan tidak tepat, karena beberapa faktor, yaitu kondisi orang yang
diperiksa (misalnya sedang kurang sehat badan, tidak berminat, hendak
memperdaya, tidak siap, takut-takut, dan sebagainya). Kondisi orang yang
memeriksa (khilaf menskor, tergesa-gesa menyimpulkan, dan sebagainya), kondisi
lingkungan fisik yang tidak memenuhi syarat (misalnya kurang penerangan,
bising, hawa udara yang tidak segar dan terlalu panas atau dingin, dan
sebagainya). Kondisi yang ideal memang sejauh mungkin diciptakan agar dapat
dikatakan standar, sehingga hasil Psikotest dapat lebih
dipertanggungjawabkan. Kiranya dengan demikian dapat dijelaskan, bahwa
melakukan pemeriksaan psikologi itu tidak sembarangan dan sebaiknya
pemakainya/pelakunya
mempunyai latar belakang pendidikan psikologi yang formal dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Membuat Psikotest adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Prosedur kerjanya cukup panjang dan memerlukan kecakapan tertentu yang dilandasi oleh pengetahuan statistik dan teori psikologi yang mendalam. Prinsip-prinsip dan prosedur konstruksi Psikotest diajarkan di fakultas psikologi, disertai latihan-latihan yang diperlukan. Test yang telah diciptakan selama ini mungkin sampai kepada jumlah ribuan, namun test yang baik dan sering digunakan/dianjurkan tidak banyak jumlahnya. Di Indonesia tentu pula telah beredar Psikotest yang berasal dari luar negeri. Test tersebut belum tentu seluruhnya telah distandarisasikan, bahkan divalidasikan sesuai prosedur konstruksi test yang lazim. Oleh karena itu para pengguna jasa psikologi perlu waspada terhadap penggunaan test yang belum memenuhi syarat-syarat reliability, validity dan standar atau norma yang diperlukan.
Membuat Psikotest adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Prosedur kerjanya cukup panjang dan memerlukan kecakapan tertentu yang dilandasi oleh pengetahuan statistik dan teori psikologi yang mendalam. Prinsip-prinsip dan prosedur konstruksi Psikotest diajarkan di fakultas psikologi, disertai latihan-latihan yang diperlukan. Test yang telah diciptakan selama ini mungkin sampai kepada jumlah ribuan, namun test yang baik dan sering digunakan/dianjurkan tidak banyak jumlahnya. Di Indonesia tentu pula telah beredar Psikotest yang berasal dari luar negeri. Test tersebut belum tentu seluruhnya telah distandarisasikan, bahkan divalidasikan sesuai prosedur konstruksi test yang lazim. Oleh karena itu para pengguna jasa psikologi perlu waspada terhadap penggunaan test yang belum memenuhi syarat-syarat reliability, validity dan standar atau norma yang diperlukan.
Validity adalah hal yang terpenting untuk diperhatikan dalam konstruksi dan
penggunaan semua tipe test. Validity
selalu dihubungkan dengan pertanyaan: “Test ini mengukur apa?” Selanjutnya
perlu dijawab pula pertanyaan: “Apa arti suatu skor?” dan “Skor ini bercerita
tentang apa?” atau “Dengan apa skor pada test ini dapat dihubungkan?” Dalam
tulisan ini tidak akan diterangkan sampai terperinci tentang validity suatu test, namun masih perlu
diketahui bahwa ada tiga macam validity,
yaitu content, criterion dan construct validity. Content validity
hendaknya jangan dikacaukan dengan face
validity, suatu istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada kesan
seseorang bahwa test itu ‘relevan’. Ada dua jenis criterion validity,
yaitu concurrent validity dan predictive validity. Untuk construct validity perlu dibedakan pula
dalam convergent validity dan discriminant validity.
Apabila
validity menerangkan hubungan antara
hasil-hasil test dan kriteria-kriteria di luar test itu sendiri, maka reliability lebih menerangkan
hubungan-hubungan di dalam test itu sendiri. Jadi prosedur penilaian yang
disebut reliability itu menjelaskan
kecermatan dan keajegan (konsistensi) hasil yang diukur oleh suatu test. Skor
sebagai hasil suatu test hendaknya bebas dari pengaruh-pengaruh penentu lain
secara kebetulan, sehingga skor itu dapat dipercaya. Istilah lain untuk reliability
seperti yang digunakan oleh Cronbach
(1970), ialah generalizability.
Standar atau norma diperlukan agar orang dapat
mengerti arti suatu skor yang diperoleh seseorang pada test tertentu. Dengan
norma itu orang dapat membandingkan kedudukan skor itu dalam populasi di mana
test itu distandarisasikan. Dalam proses interpretasi, skor mentah perlu
ditransformasikan kedalam bermacam-macam jenis. Sekedar untuk pengetahuan saja
dikemukakan di sini bahwa ada dua jenis transformasi, yaitu percentile score dan standard score. Selain yang penting itu
masih ada norma lain, seperti stanine,
Wechsler IQ’s, sedangkan TNI AD
menggunakan variasi dari standard score
(z-Score) yang dinamakan ‘kelas angka’ (punten
klasse). Dengan cara pembuatan standar atau norma berdasarkan kelompok
tertentu, misalnya kelompok Perwira, Bintara dan Tamtama, atau kelompok
pendidikan, misalnya Akmil, Selapa, Seskoad, maka setiap skor yang diperoleh
seorang testee dapat diartikan dalam konteks kelompok tertentu. Di USA ada
jenis-jenis standard scores seperti CEEB (College Entrance Examination
Board) Scores dan AGCT (Army General Classification Test) Scores.
Pembuatan
norma untuk objective test (test
intelegensi) relatif lebih mudah daripada untuk projective test (test kepribadian), jenis test kepribadian yang
menggunakan kuesioner yang sering dinamakan ‘inventories’
masih termasuk objective test. Namun projective test seperti Rorschach, Thematic Apperception Test, Wartegg
Zeichen Test, Baum Test, masih lebih sulit prosedur pembuatan normanya
karena faktor-faktor lingkungan terutama budaya dan nilai-nilai sosial, serta
banyak makna simbolik yang perlu diperhitungkan. Pengalaman klinik para ahli di
bidang psikologi ikut menentukan dalam pembentukan kemampuan
mengintrepretasikan symptom-symptom yang muncul pada hasil pemeriksaan
psikologi yang bersangkutan.
Untuk
mendapatkan validity coefficient, reliability
coefficient dan pembuatan standar
atau norma diperlukan perhitungan statistic. Untuk itu pula diperlukan
penguasaan metoda psikometrik, terutama dalam konstruksi test objektif.
Menggunakan test yang telah ‘jadi’ memang tampak mudah, namun seorang ahli di
bidang psikologi pasti dan harus mengetahui serta menguasai prosedur konstruksi
test objektif agar benar-benar bertanggung jawab dalam melakukan profesinya.
Mengingat bahwa hingga saat ini masih banyak orang
yang menanyakan cara-cara menghadapi Psikotest, maka berikut ini kami sampaikan
beberapa tips yang dapat dilakukan berkaitan dengan Psikotest.
1. Harus cukup istirahat/tidur sebelum pelaksanaan Psikotest. Hal ini penting
dilakukan untuk menghimpun energi yang dapat meningkatkan konsentrasi.
2. Percaya pada kemampuan diri
sendiri. Tidak perlu kasak-kusuk yang justru dapat mengakibatkan timbulnya
kebingungan/ketegangan, apalagi bila informasi yang diperoleh ‘menyesatkan’.
3. Perhatikan instruksi yang
diberikan oleh testor (pengetest). Bila belum jelas, bertanyalah pada testor
sebelum waktu untuk mengerjakan test dihitung.
4. Kerjakan materi test seoptimal
mungkin, sesuai dengan petunjuk/ instruksi testor. Penyimpangan terhadap
instruksi dapat mengakibatkan kesalahan dalam proses pengerjaan.
5. Pusatkan seluruh perhatian dan
pikiran pada materi yang dikerjakan. Dengan demikian maka energi yang dimiliki dapat dimanfaatkan dengan
optimal.
6. Periksa kembali apa yang sudah
dikerjakan, apabila waktunya masih ada (belum ada aba-aba “selesai” /
“berhenti”). Hal ini memungkinkan kita untuk mengoreksi/memeriksa kembali
jawaban yang diberikan dengan lebih teliti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar