Rabu, Februari 06, 2019

PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA



1) Penerapan psikologi dalam bidang pendidikan dan pengajaran
Penerapan psikologi dalam bidang pendidikan dianggap sebagai bidang profesi yang paling banyak dimanfaatkan. Program-program dalam sekolah yang memanfaatkan penelitian psikologi :
a. Pengajaran
b. Kurikulum
c. Disiplin dan peraturan
d. Human relationships


2) Penerapan psikologi dalam bidang bimbingan dan penyuluhan
Bimbingan dan penyuluhan adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan rohaniah dalam linkup hidupnya. Sasaran bimbingan dan penyuluhan adalah pemberian kecerahan batin.

3) Penerapan psikologi dalam hubungan kemasyarakatan
Pendekatan psikologi diadakannya program pendidikan masyarakat, progaram pengajaran sambil bekerja, program pemberantasan buta aksara, dan seterusnya.

4) Penerapan psikologi dalam bidang kepemimpinan
Penetahuan tentang leadership dan management tak sedikit mempergunakan penemuan dalam psikologi, karena yang dihadapi adalah manusia yang mempunyai sifat tersendiri. Pendekatan psikologi dalam beberapa aspek kehidupannya antara lain :
• Bagaimana membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa
• Bagaimana memberi pengarahan untuk menuju suatu tujuan yang dicita-citakan.
• Bagaimana pencegahan dan penyembuhan kekacauan negara seperti pemberontakan, kriminal, dsb.

5) Penerapan psikologi dalam bidang kriminalitas
Hasil penyelidikan psikologi dunia kriminalitas membenarkan bahwa orang jahat tak dapat disembuhkan hanya dengan kekerasan dan siksaan, tetapi harus diganti dengan terapi mental. Dibenarkan dalam psikologi bahwa perawatan yang menerangkan prinsip-prinsip kesehatan mental dapat membuat penjahat menjadi sadar dan jera selama-lamanya.


Pengukuran Intelegensi

Tingkat intelegensi seseorang tidak dapat diketahui hanya berdasarkan perkiraan melalui pengamatan, melainkan harus diukur dengan menggunakan alat khusus yang dinamakan tes intelegensi atau Intelligence Quotient (IQ). Walgito (1997) (dalam Khadijah, 2009 : 92) mengemukakan bahwa orang yang dapat dipandang sebagai orang yang pertama menciptakan tes intelegensi adalah Binet.
Masyarakat umum seringkali menyamakan istilah IQ dengan intelegensi, padahal keduanya berbeda. Intelegensi adalah kemampuan umum yang dimiliki seseorang (kecerdasan individu sebenarnya yang sifatnya pembawaan/hereditas), sedangkan IQ adalah suatu ukuran tingkat kecerdasan seseorang. Alat yang dianggap paling akurat mengukur kecerdasan seseorang adalah tes IQ, yang tentu saja bila dilakukan secara benar dan dengan orang yang tepat (orang yang diukur kecerdasannya dan psikolog sebagai orang yang tepat melakukan tes IQ bagi seseorang). Hanya saja karena yang diukur adalah sesuatu yang sifatnya  tidak konkret, maka tes IQ tidak sepenuhnya dapat dipercaya sebagai penunjukan intelegensi seseorang.
Macam-macam tes intelegensi,antara lain:(1)Tes Binet Simon;(2)Brightness test atau tes Mosselon yaitu tes three words (tes 3 kata); (3) Telegram test, yaitu tes membuat berita dalam bentuk telegram; (4) Definitie, yaitu tes mendefinisikan sesuatu;
(5)Wiggly test,yaitu tes menyusun
kembali balok-balok kecil yang semula tersusun menjadi satu;
(6) Stenguest test, yaitu tes mengamati suatu benda sebaik-baiknya, lalu dirusak kemudian diminta membentuk kembali; (7) Absurdity test, yaitu tes mencari keanehan yang terdapat dalam suatu bentuk cerita;(8) Medallion test, yaitu tes menyelesaikan gambar yang belum jadi atau baru sebagian; (9)Educational test (scholastik test), yaitu tes yang biasanya diberikan di sekolah-sekolah.
Berdasarkan cara tes yang disebut tes binet-simon sebagai tes intelegensi yang pertama  muncul, memperhitungkan 2 hal dalam melakukan tes, yaitu :
(1)Umur Kronologis (Cronological Age atau Calender
Age
atau CA) yaitu umurseseorang sebagaimana yang
ditunjukkan dengan hari kelahirannya atau lamanya ia hidup sejak
tanggal lahirnya.
(2)Umur mental  (mental age disingkat MA) yaitu umur
kecerdasansebagaimana yang ditunjukkan oleh hasil tes kemampuan
akademik.
Perbandingan kecerdasan itu = umur mental dibandingkan dengan umur kronologis.
Sehingga dapat dirumuskan :
IQ = (MA/CA) x 100%
Caranya :
(1) Berikan soal-soal yang sesuai tingkat umur;(2) Tiap pertanyaan (dalam soal) dinilai betul/salah; (3)Tentukan jumlah soal untuk tingkat umur;(4) Jumlahkan nilai tiap kelompok soal;
(5) Berikan soal-soal untuk umur dibawahnya, sehingga
soal terjawab; (6) Pada kelompok soal tingkat umur
yang sudah terjawab kita hentikan;
(7) Berikan pertanyaan dari soal untuk umur di atasnya, pada saat anak tersebut tidak dapat menjawab semua pertanyaan, baru dihentikan;(8) Nilai jawaban yang betul kita jumlahkan, itulah umur kecerdasan (MA);(9) Hasil angka akhir setelah dihitung dengan rumus, itulah IQ.

PENGUKURAN KEPRIBADIAN

I.                   PENDAHULUAN
Dalam dunia pendidikan kita sebagai seorang calon konselor/ penyuluh sosial sebaiknya mengerti tentang kepribadian diri kita sendiri dan kepribadian pasien/ klien. Sebab hal ini merupakan sebuah pijakan yang baik untuk mengawali suatu proses pembelajaran yang baik juga.
Pada dasarnya kepribadian dari diri seseorang merupakan suatu cerminan dari kesuksesan. Seseorang yang mempunyai kepribadian yang unggul adalah seseorang yang siap untuk hidup dalam kesuksesan. Sebab dalam kepribadian orang tersebut terdapat nilai-nilai positif yang selalu memberikan energi positif terhadap paradigma dalam menghadapi tantangan dan cobaan kehidupan. Sebaliknya, seseorang dengan kepribadian yang rendah adalah seseorang yang selalu dilingkupi dengan kegagalan.
Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan kepribadian ini sulit diukur dibanding dengan kecakapan maupun kecerdasan. Kemampuan untuk mengukur dan mengenal kepribadian manusia tergantung kepada masing-masing individu.
II.                PERMASALAHAN
a.       Apakah kepribadian itu?
b.      Apakah yang dimaksud dengan tes kepribadian dan apa gunanya?
c.       Bagaimana cara mengukur kepribadian?
d.      Apa saja macam-macam tes kepribadian?
III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kepribadian
Kepribadian sering disebut juga personality. Istilah personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain.
Sedangkan personality menurut Kartini Kartono adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan suatu susunan sistem psikofisik (psikis dan fisik yang berpadu dan saling berinteraksi dalam mengarahkan tingkah laku) yang kompleks dan dinamis dalam diri seorang individu, yang menentukan penyesuaian diri individu tersebut terhadap lingkungannya, sehingga akan tampak dalam tingkah lakunya yang unik dan berbeda dengan orang lain.[1]
B.     Tes Kepribadian Serta Kegunaannya
Tes kepribadian adalah tes untuk mengungkapkan sifat-sifat, aspek-aspek, maupun ciri-ciri keprbadian seseorang. Tes kepribadian ini sangat langka di Indonesia walaupun perintisannya sudah agak lama dimulai. Pemberian tes kepribadian di sekolah-sekolah pada umumnya masih banyak mengalami kesulitan, sehingga perlu minta bantuan dari pihak atau petugas ahli dalam bidang tersebut.
Pemberian tes kepribadian dalam rangka kegiatan bimbingan dan konseling akan berguna:
a.       Untuk kepentingan seleksi.
b.      Untuk kepentingan jurusan
c.       Untuk kepentingan diagnostik
d.      Untuk kepentingan bimbingan jabatan
e.       Berfungsi sebagai katarsis (khususnya tes proyektif).[2]
C.     Cara Mengukur Kepribadian
Sifat kepribadian biasa diukur melalui angka rata-rata pelaporan dari (self-report) kuesioner kepribadian (untuk sifat khusus) atau penelusuran kepribadian seutuhnya (personality inventory, serangkaian instrumen yang menyingkap sejumlah sifat). Ada beberapa macam cara untuk mengukur atau menyelidiki kepribadian. Berikut ini adalah beberapa diantaranya :
1.      Observasi Direct
Observasi direk berbeda dengan observasi biasa. Observasi direk mempunyai sasaran yang khusus , sedangkan observasi biasa mengamati seluruh tingkah laku subjek. Observasi direk memilih situasi tertentu, yaitu saat dapat diperkirakan munculnya indikator dari ciri-ciri yang hendak diteliti, sedangkan observasi biasa mungkin tidak merencanakan untuk memilih waktu.
Observasi direct diadakan dalam situasi terkontrol, dapat diulang atau dapat dibuat replikasinya. Misalnya, pada saat berpidato, sibuk bekerja, dan sebagainya.Ada tiga tipe metode dalam observasi direk yaitu:
a.       Time Sampling Method
Dalam time sampling method, tiap-tiap subjek diselidiki pada periode waktu tertentu. Hal yang diobservasi mungkin sekadar muncul tidaknya respons, atau aspek tertentu.
b.      Incident Sampling Method
Dalam incident sampling method, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku dalam berbagai situasi. Laporan observasinya mungkin berupa catatan-catatan dari Ibu tentang anaknya, khusus pada waktu menangis, pada waktu mogok makan, dan sebgainya. Dalam pencatatan tersebut hal-hal yang menjadi perhatian adalah tentang intensitasnya, lamanya, juga tentang efek-efek berikut setelah respons.
c.       Metode Buku Harian Terkontrol
Metode ini dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian tentang tingkah laku yang khusus hendak diselidiki oleh yang bersangkutan sendiri. Misalnya mengadakan observasi sendiri pada waktu sedang marah. Syarat penggunaan metode ini, antara lain, bahwa peneliti adalah orang dewasa yang cukup inteligen dan lebih jauh lagi adalah benar-benar ada pengabdian pada perkembangan ilmu pengetahuan.
2.      Wawancara (Interview)
Menilai kepribadian dengan wawancara (interview) berarti mengadakan tatap muka dan berbicara dari hati ke hati dengan orang yang dinilai. Dalam psikologi kepribadian, orang mulai mengembangkan dua jenis wawancara, yakni:
a.       Stress interview
Stress interview digunakan untuk mengetahui sejauh mana seseorang dapat bertahan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu emosinya dan juga untuk mengetahui seberapa lama seseorang dapat kembali menyeimbangkan emosinya setelah tekanan-tekanan ditiadakan. Interviewer ditugaskan untuk mengerjakan sesuatu yang mudah, kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang lebih sukar.
b.      Exhaustive Interview
Exhaustive Interview merupakan cara interview yang berlangsung sangat lama; diselenggarakn non-stop. Cara ini biasa digunakan untuk meneliti para tersangka dibidang kriminal dan sebagai pemeriksaan taraf ketiga.
3.      Tes proyektif
Cara lain untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunakan tes proyektif. Orang yang dinilai akan memprediksikan dirinya melalui gambar atau hal-hal lain yang dilakukannya. Tes proyektif pada dasarnya memberi peluang kepada testee (orang yang dites) untuk memberikan makna atau arti atas hal yang disajikan; tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah.
Jika kepada subjek diberikan tugas yang menurut penggunaan imajinasi, kita dapat menganalisis hasil fantasinya untuk menguur cara dia merasa dan berpikir. Jika melakukan kegiatan yang bebas, orang cenderung menunjukkan dirinya, memantulkan (proyeksi) kepribadiannya untuk melakukan tugas yang kreatif. [3]
D.    Macam-Macam Tes Kepribadian
Tes kepribadian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) Tes non-proyektif, dan (2) tes proyektif.
(1)   Tes non-proyektif, yaitu tes kepribadian yang disusun dengn tidak mempertimbangkan adanya proyeksi. Yang termasuk tes non-proyeksi, antara lain:
a)      Tes Kepribadian (ARES)
Yaitu tes kepribadian untuk mengungkap aspek kepercayaan diri, tanggung jawab, kestabilan emosi, dan hubungan sosial.
b)      Tes L & TW (Leadership dan Team Work)
Tes L & TW digunakan untuk mengungkap aspek sikap, kepemimpinan, dan kerjasama.
c)      Tes Wiggly Block
Tes kepribadin yang berbentuk potongan balok, untuk mengungkap aspek reaksi kerja, sistematika kerja, ketenangan kerja, kecepatan kerja dan hasil kerja.
d)     Tes EPPS
Tes EPPS diciptakan oleh Allen L. Edwards pada tahun 1953. Tes Edwards Personal Preference Schedule (EPPS) adalah tes kepribadian yang mengukur tingkat individu dalam 15 kebutuhan dan motivasi umum.
Dalam tes EPPS ini tak ada jawaban yang benar dan jawaban yang salah. Namun hanya merupakan tes yang mengetahui tipe-tipe motivasi, kebutuhan dan kesukaan pribadi. Dalam dunia kerja tes EPPS ini dipergunakan untuk mengetahui karakter masing-masing karyawan ataupun calon karyawan sehingga perusahaan dapat menempatkannya pada bidang yang tepat sehingga kelebihan dan kemampuannya dapat dioptimalkan.
e)      Tes Kraeplin
Tes kraepelin merupakan tes yang sering digunakan dalam rekruitment karyawan. Bagi anda yang pernah mengikuti tes kerja, tentunya anda pernah melakukannya. Dimana anda disuguhi lembaran kertas yang penuh berisi angka-angka dan anda diminta menjumlahkan angka diatas atau dibawahnya yang berdekatan dalam satu kolom dan menulis hasilnya di antara angka tersebut, kemudian sesuai dengan waktu yang telah ditentukan tester atau penguji akan meminta anda melanjutkan ke kolom selanjutnya sampai waktu tes berakhir. Sebelum membahas lebih jauh, baiknya kita mengetahui contoh dan sejarah alat tes psikologi tersebut.
(2)   Tes proyektif, yaitu tes yang disusun atas dasar  penggunaan mekanisme proyeksi. Penugasan terhadap pelaku tes (testee) adalah proyekssi yang bersifat tak berstruktur yang memungkinkan aneka ragam jawaban sehingga kehidupan awal seseorang bisa bergerak sebebas mungkin. Yang termasuk Tes Proyektif adalah:
a.       Tes Rorschach
Diciptakan pada tahun 1921 oleh Herman Rorschach, seorang psikiatris. Rorschach membuat standar kartu – kartu yang ada dari pasien di rumah sakit. Ada 10 kartu yang terpilih di antara ratusan kartu yang di ujicobakan. Rorschach adalah orang pertama yang menerapkan noda tinta pada penyelidikan diagnostik atas kepribadian secara keseluruhan. Dalam pengembangan teknik ini, rorschach bereksperimen dengan sejumlah besar noda tinta, yang ia uji cobakan pada berbagai kelompok psikiatrik yang berbeda.
Tes rorschach adalah sebuah tes psikologi dimana subjek mempersepsikan bercak tinta dan kemudian dilakukan analisa atau di interpretasi psikologi. Beberapa psikolog menggunakan test ini untuk memeriksa kepribadian seseorang. Test ini banyak digunakan untuk kasus – kasus dimana pasien tidak ingin menggambar proses terbuka.
Tahun 1960 test rorschach menjadi kurang dihargai sebagai instrumen psikometris. Para peneliti sadar bahwa mereka mulai dihambat oleh kesulitan inheren dalam metode itu sendiri misalnya, kemungkinan variasi dalam jumlah total respon, pengaruh dari efek penguji dan saling ketergantungan skor – skor serta juga perkembengan sistem penetu skor. Orang ccenderung menggunakan data test rorschach dengan cara mereka sendiri.[4]
b.      Tes Menggambar (Wartegg)
Tes Wartegg adalah tes kepribadian dan terutama bertujuan memperoleh insight mengenai struktur kepribadian yang diselodiki dan dinyatakan ke dalam istilah berbagai fungsi dasar dari pribadi. Tes ini adalah tes menggambar dengan suatu seri gambar yang harus dikerjakan oleh testee. yang digambar hanya dipandang dari sudut arti diagnostik, artinya dari nilai ekspresinya dan sifat proyektifnya yang ada pada gambar-gambar itu.
Tes Wartegg diciptakan oleh Ehrich Wartegg, seorang psikolog Jerman tahun 1939. Secara lengkap tes ini harus disebut tes menggambar Tes Menggambar Wartegg. Ciri Tes Wartegg yang pertama adalah tugas sampai taraf tertentu tidak berstruktur sehingga si subjek bebas sekali dalam memenuhi tugas. Jadi ada banyak kemungkinan bagi hasil yang individuil. Yang kedua, adalah testing tersamar (disguised testing) dengan kata lain si subjek tidak menginsafi bagaimana jawabannya atau hasil tugasnya akan ditafsirkan. Ciri yang ketiga adalah pendapatan global (global approach) artinya kepribadian diperiksa sebagai keseluruhan.
Tes Wartegg merupakan tes ekspresi yang dapat untuk mengungkap data-data  mengenai struktur kepribadian seseorang yaitu;
1.      Emotion (Emosi) ; outgoing (terbuka), seclusive (tertutup)
2.      Imagination (Imajinasi) ; combinative (kombinasi), creative (kreatif)
3.      Intelect (intelegensi) ; practical (praktis), speculative (spekulatif)
4.      Activity (aktivitas) ; dinamic (dinamis), controlled (terawasi)[5]
c.       Thematic Apperception Test (TAT)
TAT merupakan singkatan dari Thematic Appreciation Test. TAT adalah sebuah test yang dilakukan untuk mengetahui kognitif atau gambaran kepribadian secara umum dari seorang. Dan yang diteliti di sini, adalah pengukuran yang dibutuhkan dalam sebuah pemberian nilai dari test ini. Dengan berbagai macam perhitungan, kita bisa mengetahui alat ukur yang digunakan untuk menghitung, bahkan mampu menarik sebuah kesimpulan, dalam menentukan kepribadian dan kognitif seseorang secara umum.
Metode dengan menggunakan dengan kartu bergambar seukuran 4 X 6 inchi. Diberikan masing – masing, pria dan wanita, 5 jenis kartu yang berbeda dan 1 kartu kosong. Partisipan berjumlah 1619 yang diambil secara acak dari 2460 inteviewee. Mereka akan diberikan waktu untuk menceritakan arti kartu bergambar tersebut, secara lisan, detail dengan emosi yang mendalam (mendramatisir).
Hasilnya, berdasarkan deskriptif statistik, menunjukkan alat ukur yang digunakan, mampu menunjukkan skor yang tinggi. Ini berarti penggunaan TAT dengan pengukuran untuk menhitung angka jumlah berkorelasi dengan baik. Kepribadian secara umum dapat terlihat sesuai data yang ada.
TAT diciptakan oleh seorang psikolog dari Harvard bernama Morgan dan Murray dan TAT yang lazim dilakukan kepada orang-orang terdiri dari setumpuk kartu bergambar, yang mengandung ekspresi-ekspresi yang kuat. Kartu TAT ini juga di kategorikan berdasarkan gender, B untuk boys, G untuk girls dan M-F untuk male and female, yakni untuk kedua jenis.[6]
           
d.      The Draw a Person Test (Tes DAW)
Tes ini mengharuskan anda untuk menggambar sesorang, unuk kemudian anda deskripsikan usia, jenis kelamin dan aktifitas orang tersebut. Tes ini dipergunakan untuk mengatahui tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja.
Tipsnya:
  • Gambarlah orang tersebut secara utuh mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, termasuk detil muka seperti mata, hidung, mulut dan telinga.
  • Gambarlah orang tersebut dalam keadaan sedang melakukan aktifitas, misalnya pak tani sedang membawa cangkul, eksekutif muda sedang menenteng koper dsb.[7]
e.       Tes Asosiasi Kata
Dari sebuah daftar kata-kata, satu demi satu ditunjukkan kepada anak (testee). Kemudian testee disuruh mengatakan atau menulis kata-kata atau pengertian yang muncul pertama kali dalam kesadarannya. Misalnya, dari kata “ujian”, ditulis atau dijawab oleh testee kejam, maka dari jawaban ini dapat diambil kesimpulan, bahwa testee menganggap ujian itu hal yang menentukan nasibnya.
f.       Sentence or Story Completion Test
Dalam tes ini sebagai perangsangnya adalah kalimat atau cerita. Testee dipertunjukkan sebagian dari kalimat atau sebagian dari cerita. Kemudian diminta untuk menyempurnakan kalimat atau berita tersebut.[8]
IV.             PENUTUP
Tes kepribadian (personality test) adalah sebuah tes psikologi yang meneliti jenis dan karakter kepribadian seseorang dalam berbagai aspek, termasuk aspek kognitif dan aspek emosi. Secara garis besar, ada dua jenis tes kepribadian yang populer saat ini. Yaitu tes kepribadian proyektif dan tes kepribadian non-proyektif.  
Tes kepribadian sebenarnya bukan penilaian yang terpisah-pisah dari masing-masing aspeknya, melainkan penilaian terhadap semua sifat atau aspek kpribadian yang merupakan totalitas seseorang yang bersifat individuil yang memberi kemungknan untuk memperbedakan ciri-cirinya yang umum dengan pribadi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://dibukamata.blogspot.com/2009/09/tips-menghadapi-psikotest-disertai.html
Kartono, Dr. Kartini, Teori Kepribadian, Bandung: Mandar Maju, 2005
Ratna. Subandi M.A., Wulan. Tes Rorschach Administrasi Dan Skoring. Yogyakarta:Fakultas Psikologi Unifersitas Gadjah Mada. 2004. Hal 34
Wibowo, Drs. Mungin Edi, Tehnik Bimbingan dan Konseling, Semarang: IKIP, 1984