Kamis, Oktober 25, 2018

E COUNSELLING



Konseling merupakan sebuah proses bantuan yang dilakukan seorang konselor kepada konseli untuk membantu menyelesaikan masalah yang dialami konseli dan agar konseli  dapat  menyesuaikan  dirinya secara  lebih  efektif  dengan  dirinya  sendiri dan  lingkungan. Proses bantuan ini dapat juga disebut proses psikologis yang dapat dilakukan dalam setting keompok maupun individu. Menurut Richard Nelson (1995:2) konseling merupakan proses yang mempunyai tujuan untuk membantu terbentuknya sebuah hubungan yang baik melalui proses psikologis dengan memberi pertimbangan-pertimbangan dalam psikoterapi.
Berbagai permasalahan manusia yang begitu komplek didunia ini membuat manusia untuk menggunakan perkembangan teknologi untuk memudahkan kegiatannya sehari-hari. Perkembangan teknologi pada saat ini juga banyak digunakan konselor sebagai media dalam karirnya untuk membantu konselinya. Dengan berbagai alasan untuk menunjang keefisienan waktu antara konselor dan konseli maka dibutuhkan tehknologi dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling yang dinamakan e konseling, dimana dalam pelaksanaanya e konseling ini tidak dibatasi waktu dan tempat karena konselor dan konseli tidak harus bertemu tatap muka secara langsung. Meskipun dalam pelaksanaan e konseling ini tidak mempertemukan secara langsung antara konselor dan konseli, pelaksanaan e konseling ini cukup efektif dalam membantu menyelesaikan permasalahan konseli. Terdapat dua ulasan tentang kualitas dalam metodologi e terapi yang membantu peramasalahan kesehatan mental yang ditemukan dalam empat belas penelitian, meskipun tidak begitu meyakinkan akan tetapi e terapi memainkan peran dalam bidangnya (Postel, 2008 dalam Ron Kraus, George Stricker, Cedric Speyer, 2011:57). Penelitian tentang e kosnseling telah dilaksanakan dalam 92 penelitian yang telah dilaporkan dalam 64 makalah bahwa konseling online telah membantu sekitar 9764 klien (Barrak, 2008 dalam Ron Kraus, George Stricker, Cedric Speyer, 2011:57).

PELAKSANAAN E KONSELING

Tahapan E Konseling
Pelaksanaan proses konseling terdapat beberapa tahapan. Pada pelaksanaan e konseling ini juga terdapat beberapa tahap yang tidak jauh berbeda dengan proses konseling pada umumnya. Dalam pelaksanaannya online counselling meliputi tiga tahapan, yaitu tahap I atau persiapan, tahap II atau proses konseling, dan terakhir tahap III atau pasca konseling (Ifdil, 2011:5). Begitu juga dengan e konseling pastinya tidak berbeda jauh prosesnya dengan konseling pada umumnya dan juga online konseling. Berikut tahapan proses e konseling:

Tahap I (Persiapan)
Sebelum memulai proses konseling, sebaiknya dilakukan persiapan yang memadai guna melancarkan proses konseling. Adapun persiapan yang harus dilakukan terdiri dari persiapan konselor sendiri dan media elektronik. Persiapan konselor meliputi keterampilan, latar belakangan pendidikan, pengetahuan akan isu yang akan ditangani, etika dan kaidah hukum, serta manajemen konseling. Persiapan media elektronik berupa penyediaan telepon, PC, dan koneksi internet yang memadai.

Tahap II (Proses Konseling)
Tahapan proses konseling tidak jauh berbeda dengan konseling face to face pada umumnya yaitu terdiri dari tahap pengantar, penjagaan, penafsiran, pembinaan, dan penilaian (Prayitno dalam Ifdil, 2011:5). Namun pada pelaksanaannya e konseling tebilang lebih fleksibel dibandingkan konseling face to face pada umumnya karena tidak dibatasi ruang dan waktu.

Tahap III (Pasca Konseling)
Tahap pasca konseling ini merupakan tahap terakhir yang merupakan kelanjutan dari tahap penilaian pada proses konseling. Pada tahap ini akan ditentukan langkah lebih lanjut dalam penanganan konseli, dengan beberapa pilihan yaitu: (1) konseling dinyatakan sukses yang ditandai konseli mengalami effective daily living (EDL) atau konseli telah kembali dalam kehidupannya yang normal, (2) konseling dilanjutkan dengan konseling face to face (tatap muka), (3) konseling akan dilanjutkan dengan sesi e konseling lanjutan, dan pilihan terakhir (4) konseli direferal atau dialihkan ke konselor lain.

Media-media yang digunakan
Pada pelaksanaan konseling tentunya membutuhkan media-media sebagai alat penunjang keberhasilan proses konseling, apalagi jika proses konseling tersebut dilakukan tanpa bertemu dengan konseli. Proses pelaksanaan e konseling dilakukan tanpa bertemu dengan konseli diakrenakan beberapa sebab, oleh karena itu pada proses pelaksanaan e konseling ini dibutuhkan media-media sebagai penghubung antara konselor dengan konseli. Berikut media elektronik yang efektif yang dapat digunakan konselor untuk melayani konselinya:
  1. Telepon
Telepon dapat digunakan konselor sebagai media untuk melakukan proses konseling jika dalam prosesnya antara konselor dan konseli tidak dapat bertemu secara langsung. Dalam proses e konseling dengan menggunakan telepon ini konselor dituntut untuk mempunyai pendengaran yang baik tentang apa yang diungkapkan konselinya untuk menunjang keberhasilan proses konseling. Untuk mendukung berjalannya proses konseling dengan menggunakan telepon konselor dituntut peka dalam mendengarkan (Goss & Anthony, 2003:94).
Seorang konselor dalam melakukan layanan kosneling dengan menggunakan telepon ini terkendala dengan beberapa sebab dikarenakan tidak bertemu secara langsung dengan konseli. Kendala tersebut khususnya terletak pada penggunaan teknik dalam sebuah pendekatan. Pendekatan Cognitif Behavior dan Person Centered lebih cocok digunakan konselor dalam proses konseling dengan menggunakan telepon sedangkan pendekatan Gestalt dan pendekatan-pendekatan yang lain tidak cocok dikarenakan dalam teknik penyelesaian masalahnya membutuhkan beberapa kegiatan dalam prosesnya. Banyak praktisi lebih menyukai menggunakan pendekatan Cognitif Behavior dan Person Centered jika melakukan konseling menggunakan telepon dengan alasan karena lebih mudah digunakan sedangkan pendekatan Gestalt dan pendekatan lainnya dalam tekniknya membutuhkan kegiatan yang harus dipraktekkan secara langsung sehingga tidak cocok jika pendekatan tersebut digunakan dalam konseling melalui telepon (Goss & Anthony, 2003:95).
  1. PC (Personal Computer)
Pada proses e konseling dengan menggunakan PC (Personal Computer) ini dikolaborasikan dengan beberapa media elektronik yang lainnya dengan menggunakan fasilitas internet, yaitu diataranya:

Email dan Internet Relay Chat (IRC)
Email merupakan sistem pengiriman pesan berbasis teks untuk dikirim dan diterima secara elektronik melalui beberapa komputer atau telepon seluler. Email juga dapat digunakan untuk mengirim data, file teks, foto digital, atau file-file audio dan video dari satu komputer ke komputer lainnya dalam suatu jaringan komputer melalui internet. Sedangkan Internet Relay Chat (IRC) dapat dilakukan dengan menggunakan web jejaring sosial. Chat dapat diartikan sebagai obrolan dalam dunia internet. Kegiatan ini merujuk pada kegiatan komunikasi melalui sarana beberapa baris tulisan singkat yang diketik melalui keyboard. Percakapan ini dapat dilakukan dengan saling berkomunikasi melalui teks. Berberapa aplikasi yang dapat digunakan untuk chatting yaitu diantaranya melalui Short Message Service (SMS), Yahoo Messenger, MSN Messenger, mIRC, dan jejaring sosial seperti facebook , twitter, dll yang didalamnya tersedia fasiltas untuk chatting.

Webcam atau Videoconferencing
Webcam merupakan fasilitas untuk mempertemukan dua orang dari jarak jauh maupun dekat dalam sebuah gambar melalui jaringan internet melalui komputer. Tidak berbeda jauh permasalahan yang dialami konseli yang membutuhkan bantuan konselor dengan memanfaatkan layanan e konseling dengan menggunakan webcam atau video conferencing ini dengan layanan e konseling menggunakan fasilitas telepon atau pun chatting. Konseli yang menginginkan konseling dengan menggunakan fasilitas webcam atau videoconferencing biasany terkendala oelh ruang dan waktu. Namun proses konseling dengan menggunakan fasilitas webcam atau videoconferencing lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan fasilitas Email dan Internet Relay Chat (IRC) karena konselor dapat melihat sebagian tubuh konseli melalui video. Akan tetapi terdapat beberapa permasalahan dengan menggunakan fasilitas webcam atau videoconferencing (Goss & Anthony, 2003:120):

sumber:
1. Goss, S & Anthony, K. (2003). Technology in Counselling and Psychotherapy: A Practitioner's Guide. New York: Pallgrave Macmillan.
2. Nelson, R & Jones. (1995). Counselling and Personality Theory and Practice. Australia: Allen & Unwin Pty Ltd.

PENGERTIAN INFORMASI DAN SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI



INFORMASI
Kata informasi berasal dari kata Perancis kuno informacion (tahun 1387) yang diambil dari bahasa Latin informationem yang berarti “garis besar, konsep, ide”. Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam “pengetahuan yang dikomunikasikan”. Definisi informasi adalah pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Informasi juga dapat didefinisikan sebagai data yang sudah diolah menjadi sesuatu yang lebih berguna yaitu pengetahuan atau keterangan yang ditujukan bagi penerima dalam pengambilan keputusan, baik masa sekarang atau yang akan datang.

SISTEM
Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) yang dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat. Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara.
Kata “sistem” banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi dan dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka.

PSIKOLOGI 
Psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologis psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya. Dengan singkat di sebut ilmu jiwa. Psikologi juga adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan hewan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat secara langsung yang berguna sebagai suatu usaha untuk memahami proses mental.

SISTEM INFORMASI
Sistem informasi merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang bermaksud menata jaringan komunikasi yang penting, untuk mengumpulakn, memasukkan, mengolah, dan menyimpan data dan cara-cara yang diorganisasi untuk menyimpan, mengelola, mengendalikan dan melaporkan informasi sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM INFORMASI DAN FUNGSINYA 
Sistem informasi terdiri dari komponen-­komponen yang  disebut blok  bangunan (building  blok) semua komponen tersebut saling berkaitan satu sama lain membentuk suatu kesatuan untuk mencapat sasaran. komponen tersebut terdiri dari 8 komponen antara lain: 
1.             Komponen input
Input mewakili data yang masuk kedalam sistem informasi. Input disini termasuk  metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan, dan yang berupa dokumen-dokumen dasar.
2.             Komponen model 
Komponen ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan model matematik yang akan memanipulasi data  input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yang sudah ditentukan untuk menghasilkan data yang diinginkan.
3.             Komponen output
Hasil dari sistem informasi adalah data yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua pemakai sistem.
4.             Komponen teknologi
Teknologi merupakan “tool box” dalam sistem informasi, Teknologi ini digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan data, dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.
5.             Komponen hardware 
Hardware berperan penting sebagai suatu media penyimpanan terpenting bagi sistem informasi. Yang berfungsi sebagai tempat untum menampung database atau lebih mudah dikatakan sebagai sumber data dan informasi untuk memperlancar dan mempermudah kerja dari sistem informasi tersebut.
Komponen software 
Software berfungsi sebagai tempat untuk mengolah, menghitung dan memanipulasi data yang diambil dari hardware untuk menciptakan suatu informasi.
7.             Komponen basis data 
Basis data (database) merupakan kumpulan data yang saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain, tersimpan di perangkat keras komputer dengan menggunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan dalam basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data didalam basis data perlu diorganisasikan sedemikan rupa agar informasi yang dihasilkan berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas penyimpanannya. Basis data diakses atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database Management System).
8.             Komponen kontrol 
Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan­-kecurangan, bahkan kegagalan­-kegagalan sistem itu sendiri, ketidakefisienan, dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang serta diterapkan dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa hal-­hal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan­-kesalahan dapat langsung cepat diatasi.

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI 
Sistem Informasi Psikologi adalah suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian. Contoh nyata dari pengaplikasian SIP dalam kehidupan adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, dalam hal ini umumnya komputer (komputerisasi alat tes psikologi).




Sumber:
1. Andi. Gaol, C.J.L. (2008). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Grasindo.
2. Basuki, A.M.H. (2008). Psikologi Umum. Depok: Universitas Gunadarma