Jumat, November 24, 2017

REVIEW JURNAL

Pemberdayaan Masyarakat Desa Yang Buta Huruf

Syamsiah
Volume III No. 2 November 2016



TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Pelaksanaan Program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf adalah Meningkatkan pengetahuan membaca, menulis, berhitung, dan tematik  serta keterampilan fungsional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan masyarakat agar mampu berperan serta secara aktif dalam pembangunan dan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas bagi peningkatan kesejahteraan hidupnya.

METODE PENELITIAN 
Jenis penelitian yang dilakukan penelitian deskriptif kualitatif yang Informan di tentukan secara purposive sampling, teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi, dianalisis melalui tahapan pengumpulan data reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan menggunakan tehnik keabsahan data triangulasi sumber, waktu, dan tehnik. 

SUBJEK PENELITIAN
Masyarakat desa Bontomarannu Kabupaten Takalar

PEMBAHASAN
Pendidikan di Kabupaten Takalar, termasuk  Pendidikan  Non Formal dan  Informal. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak sekali sumber daya manusia di Kabupaten Takalar yang tidak berkompeten, hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat yang rendah bahkan banyak masyarakat terutama di desa yang berada di daerah pesisir pantai kurang mengenyam pendidikan, sehingga mengalami buta huruf, kalau pun ada cuma orang-orang yang mampu yang bisa sekolah. Faktor yang menyebabkan masyarakat buta huruf adalah kemiskinan, ekonomi, putus sekolah kondisi sosial masyarakat, dan gender. Dalam rangka pelaksanaan program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberantasan Buta huruf ini, perlu dilakukan beberapa langkah agar dicapai pelaksanaan yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penyelenggara. Langkahlangkah tersebut adalah sebagai berikut:
a) Langkah Persiapan yaitu:
1.      Sosialisasi, Sosialisasi program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberantasan Buta Huruf yang dilakukan oleh ketua PKBM pada perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat.  
2.      Pendataan calon warga belajar, Pendataan merupakan kewenangan masingmasing desa yang bisa dilakukan oleh Kepala Desanya langsung atau  Kepala Desa menunjuk tokohtokoh masyarakat setempat
3.      langkah pelaksanaan, Pelaksanaan proses pembelajaran meliputi 3 tahapan:
a) Tahap Pemberian Materi Dasar
b) Tahap Pembinaan Keterampilan
c) Tahap Pembinaan berkesenambungan
Hambatan selama proses pembelajaran, Dalam proses pembelajaran masih sering terjadi penundaan jadwal belajar, hal itu disebabkan karena banyak warga belajar yang memiliki motivasi belajar yang sangat rendah sehingga tidak menepati jadwal pembelajaran yang sudah ditetapkan. Hambatan yang paling dirasakan yaitu ketidak mampuan warga belajar dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga secara kualitas masih ada yang belum optimal dalam menguasai materi pembelajaran. Tindak lanjut yang dilakukan oleh penyelenggara adalah melakukan program Jaring Garap. Program Jaring Garap ini bertujuan untuk membelajarkan kembali para warga belajar yang belum benarbenar mampu menguasai materi pembelajaran. Selain hambatan-hambatan di atas masih terdapat faktor hambatan dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf yaitu sebagai berikut:
 a) Nilai-nilai Sosial
b) Mata pencaharian
c) Motivasi penduduk.  
Dampak yang diharapkan pemerintah dengan diselenggarakannya program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf telah tercapai. Hal itu terbukti dengan adanya kemajuan warga belajarnya dibidang sosial maupun ekonomi, yaitu secara sosial masyarakat yang dulunya buta aksara sekarang telah mampu membaca, menulis, dan berhitung sedangkan secara ekonomi masyarakat mampu berwirausaha secara mandiri 

Selasa, November 07, 2017

AUTOBIOGRAFI

 KREATIVITAS DAN KETERBAKATAN

I
            Nama saya Nada Fitria Siregar, namun bisa dipanggil Nada atau Nadul. Saya lahir di Kota Bogor, 7 Maret 1997. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Pada saat umur 4 tahun saya memulai pendidikan di TK Al-Nur yang dimana dahulu Ibu saya sempat mengajar di TK tersebut.  Setelah dua tahun saya duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, saya melanjutkan pendidikan di SDN Ciriung 01 Cibinong-Bogor. Pada tahun 2012 saya melanjutkan pendidikan di sekolah menengah pertama yang tidak begitu jauh dengan rumah saya yaitu SMPN 2 Cibinong. Pada tahun 2015 akhirnya saya menyelesaikan dengan tuntas sekolah menengah pertama saya dan pada tahun itu juga saya melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu sekolah menengah atas (SMA). Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan di sekolah swasta yaitu di SMA PLUS YPHB Kota Bogor. 
Akhirnya saya memutuskan untuk memilih Universitas Gunadarma dengan jurusan psikologi untuk melanjutkan pendidikan saya kedepannya. Pilihan saya ini bukan pilihan yang secara tiba – tiba, melainkan pilihan tersebut sudah dibicarakan oleh saya dan kedua orangtua saya dan mereka berdua mengizinkan dan memang merekomendasikan.
 Tahun pertama saya di perkulihan, kegiatan saya hanyalah kuliah dan kuliah, hal itu yang membuat saya merasa bosan dengan rutinitas seperti itu, yang pada akhirnya di akhir semester dua kemarin saya mencoba mengikuti suatu organisasi yang memang dibawah kewenangan kampus yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang sampai sekarang masih saya tekuni disamping kegiatan perkulihan saya seperti biasanya.
            Saat ini saya sudah menginjak kepala dua, saya cukup mempunyai berbagai macam pengalaman – pengalaman yang tidak jauh dengan hobby yang saya miliki yang menyangkut dengan kreativitas dan keterbakatan yang saya miliki, yang dimana kreativitas adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah, yang memberikan individu menciptakan ide-ide secara penuh untuk berkembang. Unsur dalam kreativitas adalah pengetahuan, imajinasi, dan evaluasi. Kreativitas merupakan ciri kepribadian yang dapat di dorong dan dikembangkan dalam organisasi, sedangkan keterbakatan adalah konsep yang berakar secara biologis dari otak dan merupakan integrai yang terakselerasikan dari fungsi otak itu. Hal itu mencakup penginderaan fisik, emosi, kognisi dan intuisi (Clark, 1986). Fungsi yang terakselerasikan itu terekspresikan melalui berbagai kemampuannya, kognitif, kreatif, akademik khusus, kepemimpinan, seni rupa atau seni pertunjukan, serta ditandai juga oleh inteligensi yang tinggi. Karna berfungsinya otak yang terakselerasikan dalam perkembangannya, individu berbakat membutuhkan layanan pendidikan yang berbeda daripada yang diperoleh di sekolah-sekolah biasa yang pada umumnya bersifat klasikal. 
Seperti saat masih kecil yaitu ketika saya masih di taman kanak – kanak saya sangat menyukai pelajaran menggambar dan mewarnai yang membuat saya cukup banyak mengikuti berbagai lomba menggambar dan mewarnai dan juga dari kecil saya menyukai kegiatan atau aktivitas yang berada di luar kelas seperti olahraga ataupun kegiatan yang lebih kearah seni dan kreativitas. Seperti saat sekolah dasar saya mengikuti ekstrakulikuler marchingband selama hampir 3 tahun. Di lanjut ketika SMP saya mengikuti eskul olahraga basket dan paduan suara, kemudian dilanjuti di SMA saya melanjutkan eskul paduan suara dan lebih banyak berkesinambung di berbagai kepanitian acara sekolah seperti pensi dan buku tahunan. 
Ketika saya masih duduk di bangku SMA dan kakak saya masih di sibuk di dunia perkuliahan, kami berdua membuat suatu usaha clothing line. Awalnya, kami tidak membayangkan ataupun memikirkan untuk memulai bisnis seperti ini, karena pada dasaranya saya dan kakak saya itu sering sekali membuat atau mendesign sendiri baju – baju yang hendak kami pakai sendiri, hingga suatu saat banyak teman – teman dari kami masing – masing menanyakan baju tersebut dan cukup tertarik untuk membuatnya juga. Mulai dari situ kami sepakat untuk membuat bisnis clothing line yang ahamdulillah sampai saat ini masih berjalan.   
Membicarakan soal kreativitas, dimulai saat saya duduk dibangku kelas 3 SMP saya dan teman – teman diberi kesempatan oleh pihak sekolah pada waktu itu untuk membuat film dokumenter yang nantinya akan diputar pada saat acara wisuda angkatan kami. Saat itu saya sangat tertarik untuk membuat alur cerita film tersebut yang pada akhirnya film dokumenter tersebut sukses kami buat. Tidak berhenti sampai disitu saja, masuk ke bangku SMA saya mendapati tugas untuk membuat film pendek dari salah satu mata pelajaran saya waktu itu, saat itu saya dipilih oleh teman – teman sekelompok saya untuk membuat alur ceritanya dan sampai saat ini saya masih sering berkumpul bersama teman – teman saya untuk menjalani beberapa project – project film lainnya.
            Saya berharap untuk sekarang dan kedepannya saya bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari saat ini dan berharap hal – hal yang negatif yang ada di dalam diri saya bisa menghilang dan segala impian dan tujuan saya bisa menjadi kenyataan, Aamiin.