TEKNIK – TEKNIK PSIKOTERAPI
Disusun Oleh :
1.
Athira
Novia Putri ` 11515111
2.
Enrikus
Yehezkiel 1B516949
3.
Nada
Fitria Siregar 14515899
4.
Tety
Triana 16515857
5.
Thalia
Cika Dara 1A514721
6.
Vina
Kumala 1C514059
7.
Zia
Zaidah 1C514673
Kelas :
3PA11
Mata Kuliah : Psikoterapi
Dosen :
Aprilia Maharani Ayuningsih S.Psi, M.Psi
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULKTAS PSIKOLOGI
2017
A.
Teknik Terapi Analisis Mimpi
1.
Pengertian Analisis Mimpi
Analisis
mimpi adalah prosedur yang penting untuk menyingkap hal yang tak disadari dan
memberikan pemahaman kepada klien mengenai beberapa area masalah yang tidak
terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai jalan istimewa menuju
ketaksadaran, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan,
dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari diungkap.
Mimpi-mimpi
memiliki dua taraf isi, yaitu laten dan manifes. Isi laten terdiri atas
motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik dan tak disadari. Karena
begitu mengancam dan menyakitkan, dorongan-dorongan seksual dan agresif tak
sadar yang merupakan isi laten ditransformasikan ke dalam isi manifes yang
lebih dapat diterima, yakni impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi.
Proses transformasi is laten mimpi ke dalam isi manifes yang kurang mengancam
itu disebut kerja mimpi.
Freud
bekerja sangat dipengaruhi oleh orang-orang ahli analisis mimpi. Bukunya The Interpretation of Dream (Die
Traumdeutung) pertama kali diterbitkan tahun 1899. Di sini, ia menjelaskan
bahwa mimpi sering dikaitkan dengan keinginan-pemenuhan. Freud menjelaskan
bahwa analisis mimpi perlu dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi pada pemimpi
dalam kehidupan nyata. Terutama untuk peristiwa yang terjadi pada hari
sebelumnya. Sebagian besar mencerminkan interpretasi mimpinya ketakutan,
keinginan dan emosi yang ada dalam pikiran bawah sadar kita. Bahkan mimpi
negatif dapat ditafsirkan sebagai peristiwa yang pemimpi berharap tidak akan
terjadi.
Menurut
Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan tidur. Baginya, mimpi
adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan
yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga. Jika Freud seringkali
mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam
mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan
psikis yang salah, selip bicara, maupun lelucon.
Pada
dasarnya hakikat mimpi bagi psikoanalisis hanyalah sebentuk pemenuhan keinginan
terlarang semata. Dikatakan oleh Freud (dalam Calvin S.Hal & Gardner
Lindzaey, 1998) bahwa dengan mimpi, seseorang secara tak sadar berusaha
memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menciptakan gambaran
tentang tujuan yang diinginkan, karena di alam nyata sulit bagi kita untuk
mengungkapkan kekesalan, keresahan, kemarahan, dendam, dan yang sejenisnya
kepada obyek-obyek yang menjadi sumber rasa marah, maka muncullah dalam
keinginan itu dalam bentuk mimpi.
Analisis
Mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam
bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan,
ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama
sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk
mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat,
ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh
seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil
diungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk
diselesaikan.
2.
Proses Analisis Mimpi
Ketika
tidur, kontrol kesadaran menurun, dan mimpi adalah ungkapan isi-isi taksadar
karena turunnya kontrol kesadaran itu. Klien melaporkan apa yang dimimpikannya
dalam asosiasi bebas. Tugas analis adalah menyingkap makna-makna yang
disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat pada isi manifes
mimpi, selama jam analitik, analis bisa meminta klien untuk mengasosiasikan
secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian guna menyingkap makna-makna yang
terselubung.
3.
Kelebihan Analisis Mimpi
Adanya transferens (transference), transferens merupakan istilah psikoanalisis untuk
cara-cara individu berhubungan dengan analis (orang yang menganalisa mimpi)
yang menghasilkan kembali hubungan-hubungan penting dalam kehidupan tiap
individu. Misalnya, tiap individu mungkin berinteraksi dengan analis
seolah-olah analis adalah orangtua atau pasangan hidup dari individu tersebut.
Menurut
Freud, transferens dapat digunakan sebagai sebuah model tentang bagaimana tiap
individu berhubungan dengan orang-orang yang penting dalam kehidupannya
(Corradi, 2006)
4.
Kekurangan Analisis Mimpi
Adanya resistensi (resistance), resistensi adalah istilah pskilogi untuk strategi
pertahanan klien yang tidak disadari yang mencegah analis untuk memahami
permasalahan orang tersebut. Resistensi terjadi karena hal ini menjadi terlalu
menyakitkan untuk tiap individu membawa konfliknya ke kesadaran pribadi.
Dengan menolak terapi, individu tidak harus
berhadapan dengan kebenaran yang mengancam yang mendasari permasalahannya
(Hoffman, 2006). Datang terlambat atau melewati sebuah sesi, berargumen dengan
analis, dan berbohong saat asosiasi bebas merupakan contoh dari resistensi.
Beberapa individu berbicara terus-menerus mengenai sebuah hal sederhana atau
menjawab pertanyaan analis dengan jawaban yang singkat untuk menghindar dari
konflik mereka. Sebuah tujuan utama dari analis adalah memecah resistensi ini
(Parsons, 2006)
5.
Contoh Penerapan Analisis Mimpi
Sebelumnya Freud membedakan antara isi mimpi yang
termanifestasi dan isi laten dari mimpi seseorang.
Bila anda bangun di suatu pagi dan mengingat sebuah
mimpi tentang kembali duduk di kelas dua sekolah dasar dengan guru yang
membentak anda karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, maka ini merupakan isi
mimpi yang termanifestasi dalam mimpi anda. Isi laten adalah bagian mimpi yang
tidak diingat dan tidak disadari, aspek-aspek tersembunyi ini disimbolkan oleh
isi mimpi yang termanifestasi.
Untuk memahami makna dari mimpi anda, seorang psikoanalis
mungkin akan meminta anda untuk melakukan asosiasi bebas pada setiap elemen
dari isi mimpi yang termanifestasi, misalnya ; “Apa yang muncul di pikiran anda
ketika berada kembali di kelas dua sekolah dasar?” “Apa yang anda pikirkan
ketika melihat guru anda?”. Menurut Freud, makna laten dari mimpi anda terikat
di dalam pikiran yang tidak disadari dari orang yang bermimpi. Tujuan analisis
adalah untuk melepaskan makna rahasia ini dengan bertanya pada lapisan pikiran
orang yang lebih dalam.
Psikoanalis memaknai mimpi dengan menganalisis isi
mimpi yang termanifestasi untuk mencari kebutuhan-kebutuhan dan harapan yang
tidak disadari dengan tampilan yang samar-samar, terutama yang bersifat seksual
dan agresif. Simbol-simbol mimpi dapat berarti berbeda pada tiap orang yang berbeda juga. Namun,
harus diperhatikan kembali, karena menurut Freud tiap makna dari setiap simbol
mimpi tergantung dari si pemimpi.
B. Terapi
Eksistensial
1.
Pengertian Terapi Eksistensial
Terapi Eksitensial merupakan salah satu bentuk terapi dari Humanistik.
Terapi eksistensi berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah
suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu siterm
teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.
Menurut pandangan eksistensial, manusia mampu akan
dirinya sendiri, yaitu kapasitas yang membedakan diri kita dengan makhluk lain.
Kita adalah makhluk bebas yang bertanggung jawab dalam memilih cara hidup kita,
sehingga nasib kita berada di tangan kita sendiri.
Menurut kartini kartono dalam kamus psikologinya
mengatakan bahwa terapi eksistensial humanistik adalah salah satu psikoterapi
yang menekankan pengalaman subyektif individual kemauan bebas, serta kemampuan
yang ada untuk menentukan satu arah baru dalam hidup.
Sedangkan menurut W.S Winkel, Terapi Eksistensial
Humanistik adalah Terapi yang menekankan implikasi - implikasi dan falsafah
hidup dalam menghayati makna kehidupan manusia di bumi ini. Terapi Eksistensial
Humanistik berfokus pada situasi kehidupan manusia dialam semesta, yang
mencakup tanggung jawab pribadi, kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan
batin.
2.
Proses Terapi Eksistensial
Pendekatan eksistensial pada dasarnya tidak memiliki
perangkat teknis yang siap pakai seperti kebanyakan pendekatan lainya.
Pendekatan ini bisa menggunakan beberapa teknik dan konsep psikoanalitik, juga
bisa menggunakan teknik kognitif-behavioral. Metode yang berasal dari Gestalt
dan analis Transaksional pun sering digunakan. Akan tetapi pada intinya, teknik
dari pendekatan ini adalah penggunaan kemampuan dari pribadi terapis itu
sendiri.Terdapat beberapa tahap yang dapat dilakukan oleh terapis dalam terapi
eksistensial antara lain :
a.
Tahap
pendahuluan
Terapis membantu klien dalam
mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka tentang
dunia. Klien diajak untuk mendefinisikan dan menayakan
tentang cara mereka
memandang dan menjadikan eksistensi
mereka bisa diterima. Mereka meneliti
nilai mereka, keyakinan, serta asumsi
untuk menentukan kesalahannya.
Bagi banyak konseli
hal ini bukan pekerjaan
yang mudah, oleh
karena itu awalnya
mereka memaparkan problema mereka. Terapis disini
mengajarkan mereka bagaimana
caranya untuk bercermin pada eksistensi mereka sendiri dan meneliti peranan
mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup.
b.
Tahap
tengah
Klien
didorong semangatnya untuk
lebih dalam lagi meneliti
sumber dan otoritas dari sistem nilai mereka. Proses eksplorasi diri
ini biasanya membawa klien
ke pemahaman baru
dan berapa restrukturisasi dari nilai dan sikap mereka. Klien mendapat cita rasa yang
lebih baik akan jenis kehidupan macam
apa yang mereka
anggap pantas. Mereka mengembangkan gagasan
yang jelas tentang
proses pemberian nilai internal mereka.
c.
Tahap
terakhir
Berfokus
pada menolong klien
untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Sasaran terapi
adalah memungkinkan klien
untuk bisa mencari
cara mengaplikasikan nilai hasil
penelitian dan internalisasi
dengan jalan kongkrit. Biasanya
klien menemukan jalan mereka untuk
menggunakan kekuatan itu demi
menjalani konsistensi kehidupannya
yang memiliki tujuan.
3.
Kelebihan Terapi Eksistensial
a.
Dapat digunakan bagi
klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
b.
Adanya
kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
c.
Pendekatan
terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti
masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun
masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa
4.
Kekurangan Terapi Eksistensial
a.
Tidak
memiliki teknik yang tegas dalam pelaksanaannya.
b.
Terlalu
percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan
oleh klien sendiri)
c.
Cukup
memakan banyak waktu
5.
Contoh Penerapan Terapi Eksistensial
Leon seorang mahasiswa, mungkin melihat dirinya
sebagai dokter masa depan, tetapi
nilainya yang dikeluarkan dari sekolah kedokteran ternyata dibawah
rata-rata. Perbedaan antara dengan apa Leon melihat dirinya (konsep diri) atau
bagaimana ia ingin melihat dia (ideal konsep diri) dan realitas kinerja
akademis yang buruk dapat menyebabkan kegelisahan dan kerentanan pribadi, yang
dapat memberikan motivasi yang diperlukan untuk masuk terapi.
Leon harus melihat bahwa ada masalah atau tidak pada
dirinya. Leon pesimis untuk menghadapai penyesuaian psikologis untuk
mengeksplorasi perubahan dirinya. Konseling berlangsung, klien dapat
mengeksplorasi lebih luas keyakinannya dan perasaan (Rogers, 1967). Mereka
dapat mengekspresikan ketakutan mereka, rasa bersalah kecemasan, malu,
kebencian, kemarahan, dan lain sebagainya. emosi telah dianggap terlalu negatif
untuk menerima dan memasukkan ke dalam diri mereka. Dengan terapi, orang
disortir kurang dan pindah ke penerimaan yang lebih besar dan integrasi
perasaan yang saling bertentangan dan membingungkan. Mereka semakin menemukan
aspek dalam diri mereka yang telah disimpan tersembunyi.
Sebagai klien merasa dimengerti dan diterima, mereka
menjadi kurang defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman mereka.
Karena mereka merasa lebih aman dan kurang rentan, mereka menjadi lebih
realistis, menganggap orang lain dengan akurasi yang lebih besar, dan menjadi
lebih mampu untuk memahami dan menerima orang lain. Individu dalam terapi
datang untuk menghargai diri mereka lebih seperti mereka, dan perilaku mereka
menunjukkan lebih banyak fleksibilitas dan kreativitas. Mereka menjadi kurang
peduli tentang memenuhi harapan orang lain, dan dengan demikian mulai
berperilaku dengan cara yang lebih benar untuk diri mereka sendiri. Mereka
bergerak ke arah yang lebih berhubungan dengan apa yang mereka alami pada saat
ini, kurang terikat oleh masa lalu, kurang ditentukan, lebih bebas untuk
membuat keputusan, dan semakin percaya diri masuk untuk mengelola kehidupan
mereka sendiri.
Dari contoh kasus Leon dapat diambil kesimpulan
bahwa salah satu alasan klien mencari terapi adalah perasaan tidak percaya
diri, dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau secara efektif
mengarahkan hidup mereka sendiri. Leon diarahkan supaya melihat kepotensian
diri dia yang sebenarnya, terapi difokuskan ke saat yang sekarang agar Leon
dapat melanjtukan hidupnya.
Dari contoh kasus tersebut inti dari terapi ini
adalah penggunaan pribadi terapi yang kapasitas untuk sadar akan dirinya,
meningkatkan kesadaran diri yang memotivasi atau mempengaruhi seseorang dan
tujuan hidup individu itu (Baldwin, 1987).
C. Terapi
Pembentukan Perilaku Model
1.
Pengertian Pembentukan Perilaku Model
Terapi perilaku (Behaviour
therapy, behavior modification) adalah pendekatan untuk psikoterapi yang
didasari oleh Teori Belajar (learning
theory) yang bertujuan untuk menyembuhkan psikopatologi seperti; depression, anxiety disorders, phobias. Perilaku model digunakan untuk membentuk
perilaku baru pada klien, menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan atau
memperkuat perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien
tentang perilaku model, baik menggunakan model audio, model fisik, atau lainnya
yang dapat diamati dan dipahami jenis perilaku yang akan dicontoh.
Terdapat beberapa teori dasar mengenai metode terapi
perilaku, yaitu :
a.
Perilaku
maladaptif dan kecemasan persisten telah dibiasakan (conditioned) atau dipelajari (learned).
b.
Terapi untuk perilaku maladaptif adalah dengan
penghilangan kebiasaan (deconditioning)
atau ditinggalkan (unlearning).
c.
Untuk
menguatkan perilaku adalah dengan pembiasaan perilaku (operant and clasical conditioning).
2.
Proses Pembentukan Perilaku Model
a.
Memainkan
peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment
Yakni
terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah
manusia pada kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru,
pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam
menentukan prosesur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkah
laku yang baru dan adjustive
b.
Terlibat
dalam pemberian penguatan-penguatan sosial
Terapis
harus terlibat dalam pemberian penguatan-penguatan sosial, baik yang positif
maupun yang negatif. Bahkan meskipun, mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang
netral sehubungan dengan pertimbangan-pertimbangan nilai, terapis membentuk
tingkah laku klien, baik melalui cara-cara langsung maupun cara-cara tidak
langsung.
c.
Penguat
bagi tingkah laku klien
Peran
mengendalikan tingkah laku klien yang dimainkan oleh terapis melalui penguatan
menjangkau situasi di luar terapi serta dimasukan ke dalam tingkah laku klien
dalam dunia nyata: “terapis mengganjar respon-respon tertentu yang dilaporkan
telah ditampilkan oleh klien dalam situasi-situasi kehidupan nyata dan
menghukum respon-respon yang lainnya. Ganjaran-ganjaran itu adalah persetujuan, minat, dan keprihatinan,
perkuatan semacam itu penting terutama pada periode ketika klien mencoba
respon-respon atau tingkah laku baru yang belum secara tetap diberi perkuatan
oleh orang lain dalam kehidupan klien”.
Salah
satu penyebab munculnya hasil yang tidak memuaskan adalah bahwa terapis tidak
cukup memperkuat tingkah laku yang baru dikembangkan oleh klien
d.
Model
bagi klien
Bandura
menunjukan bahwa sebagian besar proses belajar yang melalui pengalaman langsung
juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain. Ia
mengungkapkan bahwa salah satu proses fundamental yang memungkinkan klien bisa
mempelajari tingkah laku baru adalah imitasi atau percontohan sosial yang
disajikan oleh terapis.
Terapis
sebagai pribadi menjadi model yang penting bagi klien. Karena klien sering
memandang terapis sebagai orang yang patut diteladani, klien acap kali meniru
sikap-sikap, nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan dan tingkah laku terapis.
Jadi, terapis harus menyadari peranan penting yang dimainkannya dalam proses
identifikasi.
3.
Kelebihan Pembentukan Perilaku Model
a.
Terapis
tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti
contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui stimulasi.
b.
Proses
terapi berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati dan jika terjadi
kesalahan harus segera diperbaiki.
c.
Pengulangan
dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
4.
Kekurangan Pembentukan Perilaku Model
a.
Terjadinya
proses terapi yang bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, terapis
melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari oleh klien
b.
Klien
dipandang pasif, diperlukan motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh
penguatan dari terapis
c.
Klien
hanya mendengarkan penjelasan dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang
sebagai cara belajar yang efektif.
5.
Contoh Penerapan Pembentukan Perilaku
Model
Cocok diterapkakn untuk melatih anak-anak yang masih
membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan,
suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi
hadiah atau pujian.
Dapat dikendalikan melalui cara mengganti mengganti
stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon
yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh
stimulus yang berasal dari luar dirinya
REFERENSI
A. King, Laura. (2010). Psikologi umum: sebuah pandangan apresiatif. Jakarta: Salemba
Humanika.
Bertens, K. (2006). Psikoanalisis sigmund freud. Jakarta: PT Gramedia.
Corey, Gerald. (2009). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika
Aditama.
Gunarsa, S.D. (1996). Terapi dan psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami dasar-dasar konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Misiak, henryk. (2005). Psikologi fenomenologi, eksistensial dan humanistic. Bandung: PT
Rafika Aditama