Sabtu, Juli 08, 2017

TEKNIK – TEKNIK PSIKOTERAPI (RANGKUMAN)

1.     PSIKOANALISA: ANALISIS MIMPI
a.      Definisi
Analisis mimpi adalah prosedur yang penting untuk menyingkap hal yang tak disadari dan memberikan pemahaman kepada klien mengenai beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Mimpi-mimpi memiliki dua taraf isi, yaitu laten dan manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik dan tak disadari. Karena begitu mengancam dan menyakitkan, dorongan-dorongan seksual dan agresif tak sadar yang merupakan isi laten ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yakni impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi. Proses transformasi is laten mimpi ke dalam isi manifes yang kurang mengancam itu disebut kerja mimpi.
Menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga.
Analisis Mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang.
b.      Proses
Ketika tidur, kontrol kesadaran menurun, dan mimpi adalah ungkapan isi-isi taksadar karena turunnya kontrol kesadaran itu. Klien melaporkan apa yang dimimpikannya dalam asosiasi bebas. Tugas analis adalah menyingkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat pada isi manifes mimpi.
c.       Kelebihan
Adanya transferens (transference), transferens merupakan istilah psikoanalisis untuk cara-cara individu berhubungan dengan analis (orang yang menganalisa mimpi) yang menghasilkan kembali hubungan-hubungan penting dalam kehidupan tiap individu.
d.      Kekurangan
Adanya resistensi (resistance), resistensi adalah istilah pskilogi untuk strategi pertahanan klien yang tidak disadari yang mencegah analis untuk memahami permasalahan orang tersebut. Resistensi terjadi karena hal ini menjadi terlalu menyakitkan untuk tiap individu membawa konfliknya ke kesadaran pribadi.
e.      Contoh Penerapan
Bila anda bangun di suatu pagi dan mengingat sebuah mimpi tentang kembali duduk di kelas dua sekolah dasar dengan guru yang membentak anda karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, maka ini merupakan isi mimpi yang termanifestasi dalam mimpi anda. Isi laten adalah bagian mimpi yang tidak diingat dan tidak disadari, aspek-aspek tersembunyi ini disimbolkan oleh isi mimpi yang termanifestasi. Psikoanalis memaknai mimpi dengan menganalisis isi mimpi yang termanifestasi untuk mencari kebutuhan-kebutuhan dan harapan yang tidak disadari dengan tampilan yang samar-samar, terutama yang bersifat seksual dan agresif.

2.     HUMANISTIK: EKSISTENSIAL
a.      Definisi
Terapi eksistensi berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu siterm teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Menurut pandangan eksistensial, manusia mampu akan dirinya sendiri, yaitu kapasitas yang membedakan diri kita dengan makhluk lain. Kita adalah makhluk bebas yang bertanggung jawab dalam memilih cara hidup kita, sehingga nasib kita berada di tangan kita sendiri.
b.      Proses
  Tahap pendahuluan
Terapis membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka  tentang  dunia. Klien  diajak  untuk mendefinisikan  dan menayakan  tentang  cara mereka memandang  dan menjadikan eksistensi mereka  bisa diterima.
  Tahap tengah
Proses eksplorasi  diri  ini  biasanya membawa  klien  ke  pemahaman  baru  dan  berapa  restrukturisasi  dari nilai dan  sikap mereka. Klien mendapat cita rasa yang lebih baik akan jenis  kehidupan  macam  apa  yang  mereka  anggap  pantas. 
  Tahap terakhir
Berfokus  pada  menolong  klien  untuk  bisa melaksanakan apa yang  telah mereka pelajari  tentang diri mereka sendiri. Sasaran  terapi  adalah  memungkinkan  klien  untuk  bisa  mencari  cara mengaplikasikan  nilai  hasil  penelitian  dan  internalisasi  dengan  jalan kongkrit.
c.       Kelebihan
     Dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
     Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
     Digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier.
d.      Kekurangan
     Tidak memiliki teknik yang tegas dalam pelaksanaannya.
     Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya.
     Cukup memakan banyak waktu.
e.      Contoh Penerapan
Leon seorang mahasiswa, mungkin melihat dirinya sebagai dokter masa depan, tetapi  nilainya yang dikeluarkan dari sekolah kedokteran ternyata dibawah rata-rata. Perbedaan antara dengan apa Leon melihat dirinya (konsep diri) atau bagaimana ia ingin melihat dia (ideal konsep diri) dan realitas kinerja akademis yang buruk dapat menyebabkan kegelisahan dan kerentanan pribadi, yang dapat memberikan motivasi yang diperlukan untuk masuk terapi. 
Konseling berlangsung, klien dapat mengeksplorasi lebih luas keyakinannya dan perasaan (Rogers, 1967). Mereka dapat mengekspresikan ketakutan mereka, rasa bersalah kecemasan, malu, kebencian, kemarahan, dan lain sebagainya. Dari contoh kasus Leon dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu alasan klien mencari terapi adalah perasaan tidak percaya diri, dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau secara efektif mengarahkan hidup mereka sendiri. Leon diarahkan supaya melihat kepotensian diri dia yang sebenarnya, terapi difokuskan ke saat yang sekarang agar Leon dapat melanjtukan hidupnya.

3.     BEHAVIORISTIK: PEMBENTUKAN PERILAKU MODEL
a.      Definisi
Terapi perilaku (Behaviour therapy, behavior modification) adalah pendekatan untuk psikoterapi yang didasari oleh Teori Belajar (learning theory) yang bertujuan untuk menyembuhkan psikopatologi seperti; depression, anxiety disorders, phobias.  Perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku baru pada klien, menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan atau memperkuat perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien tentang perilaku model.
b.      Proses
     Memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment
     Terlibat dalam pemberian penguatan-penguatan sosial
     Penguat bagi tingkah laku klien
     Model bagi klien
c.       Kelebihan
     Terapis tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui stimulasi.
     Proses terapi berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati dan jika terjadi kesalahan harus segera diperbaiki.
     Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
d.      Kekurangan
     Terjadinya proses terapi yang bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, terapis melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari oleh klien
     Klien dipandang pasif, diperlukan motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan dari terapis
     Klien hanya mendengarkan penjelasan dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.
e.      Contoh Penerapan

Cocok diterapkakn untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian. Dapat dikendalikan melalui cara mengganti mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan.

Jumat, Juli 07, 2017

TEKNIK – TEKNIK PSIKOTERAPI

TEKNIK – TEKNIK PSIKOTERAPI


Disusun Oleh :
1.      Athira Novia Putri              `           11515111       
2.      Enrikus Yehezkiel                           1B516949
3.      Nada Fitria Siregar                         14515899
4.      Tety Triana                                      16515857
5.      Thalia Cika Dara                             1A514721
6.      Vina Kumala                                   1C514059
7.      Zia Zaidah                                      1C514673


Kelas           : 3PA11
Mata Kuliah       Psikoterapi
Dosen                 : Aprilia Maharani Ayuningsih S.Psi, M.Psi


UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULKTAS PSIKOLOGI
2017

A.    Teknik Terapi Analisis Mimpi

1.        Pengertian Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah prosedur yang penting untuk menyingkap hal yang tak disadari dan memberikan pemahaman kepada klien mengenai beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketaksadaran, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari diungkap.
Mimpi-mimpi memiliki dua taraf isi, yaitu laten dan manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik dan tak disadari. Karena begitu mengancam dan menyakitkan, dorongan-dorongan seksual dan agresif tak sadar yang merupakan isi laten ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yakni impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi. Proses transformasi is laten mimpi ke dalam isi manifes yang kurang mengancam itu disebut kerja mimpi.
Freud bekerja sangat dipengaruhi oleh orang-orang ahli analisis mimpi. Bukunya The Interpretation of Dream (Die Traumdeutung) pertama kali diterbitkan tahun 1899. Di sini, ia menjelaskan bahwa mimpi sering dikaitkan dengan keinginan-pemenuhan. Freud menjelaskan bahwa analisis mimpi perlu dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi pada pemimpi dalam kehidupan nyata. Terutama untuk peristiwa yang terjadi pada hari sebelumnya. Sebagian besar mencerminkan interpretasi mimpinya ketakutan, keinginan dan emosi yang ada dalam pikiran bawah sadar kita. Bahkan mimpi negatif dapat ditafsirkan sebagai peristiwa yang pemimpi berharap tidak akan terjadi.
Menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga. Jika Freud seringkali mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan psikis yang salah, selip bicara, maupun lelucon.
Pada dasarnya hakikat mimpi bagi psikoanalisis hanyalah sebentuk pemenuhan keinginan terlarang semata. Dikatakan oleh Freud (dalam Calvin S.Hal & Gardner Lindzaey, 1998) bahwa dengan mimpi, seseorang secara tak sadar berusaha memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menciptakan gambaran tentang tujuan yang diinginkan, karena di alam nyata sulit bagi kita untuk mengungkapkan kekesalan, keresahan, kemarahan, dendam, dan yang sejenisnya kepada obyek-obyek yang menjadi sumber rasa marah, maka muncullah dalam keinginan itu dalam bentuk mimpi.
Analisis Mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil diungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.
2.        Proses Analisis Mimpi
Ketika tidur, kontrol kesadaran menurun, dan mimpi adalah ungkapan isi-isi taksadar karena turunnya kontrol kesadaran itu. Klien melaporkan apa yang dimimpikannya dalam asosiasi bebas. Tugas analis adalah menyingkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat pada isi manifes mimpi, selama jam analitik, analis bisa meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian guna menyingkap makna-makna yang terselubung.
3.        Kelebihan Analisis Mimpi
Adanya transferens (transference), transferens merupakan istilah psikoanalisis untuk cara-cara individu berhubungan dengan analis (orang yang menganalisa mimpi) yang menghasilkan kembali hubungan-hubungan penting dalam kehidupan tiap individu. Misalnya, tiap individu mungkin berinteraksi dengan analis seolah-olah analis adalah orangtua atau pasangan hidup dari individu tersebut.
 Menurut Freud, transferens dapat digunakan sebagai sebuah model tentang bagaimana tiap individu berhubungan dengan orang-orang yang penting dalam kehidupannya (Corradi, 2006)
4.        Kekurangan Analisis Mimpi
Adanya resistensi (resistance), resistensi adalah istilah pskilogi untuk strategi pertahanan klien yang tidak disadari yang mencegah analis untuk memahami permasalahan orang tersebut. Resistensi terjadi karena hal ini menjadi terlalu menyakitkan untuk tiap individu membawa konfliknya ke kesadaran pribadi.
Dengan menolak terapi, individu tidak harus berhadapan dengan kebenaran yang mengancam yang mendasari permasalahannya (Hoffman, 2006). Datang terlambat atau melewati sebuah sesi, berargumen dengan analis, dan berbohong saat asosiasi bebas merupakan contoh dari resistensi. Beberapa individu berbicara terus-menerus mengenai sebuah hal sederhana atau menjawab pertanyaan analis dengan jawaban yang singkat untuk menghindar dari konflik mereka. Sebuah tujuan utama dari analis adalah memecah resistensi ini (Parsons, 2006)
5.        Contoh Penerapan Analisis Mimpi
Sebelumnya Freud membedakan antara isi mimpi yang termanifestasi dan isi laten dari mimpi seseorang.
Bila anda bangun di suatu pagi dan mengingat sebuah mimpi tentang kembali duduk di kelas dua sekolah dasar dengan guru yang membentak anda karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, maka ini merupakan isi mimpi yang termanifestasi dalam mimpi anda. Isi laten adalah bagian mimpi yang tidak diingat dan tidak disadari, aspek-aspek tersembunyi ini disimbolkan oleh isi mimpi yang termanifestasi.
Untuk memahami makna dari mimpi anda, seorang psikoanalis mungkin akan meminta anda untuk melakukan asosiasi bebas pada setiap elemen dari isi mimpi yang termanifestasi, misalnya ; “Apa yang muncul di pikiran anda ketika berada kembali di kelas dua sekolah dasar?” “Apa yang anda pikirkan ketika melihat guru anda?”. Menurut Freud, makna laten dari mimpi anda terikat di dalam pikiran yang tidak disadari dari orang yang bermimpi. Tujuan analisis adalah untuk melepaskan makna rahasia ini dengan bertanya pada lapisan pikiran orang yang lebih dalam.
Psikoanalis memaknai mimpi dengan menganalisis isi mimpi yang termanifestasi untuk mencari kebutuhan-kebutuhan dan harapan yang tidak disadari dengan tampilan yang samar-samar, terutama yang bersifat seksual dan agresif. Simbol-simbol mimpi dapat berarti berbeda  pada tiap orang yang berbeda juga. Namun, harus diperhatikan kembali, karena menurut Freud tiap makna dari setiap simbol mimpi tergantung dari si pemimpi.

B.     Terapi Eksistensial
1.        Pengertian Terapi Eksistensial
Terapi Eksitensial merupakan  salah satu bentuk terapi dari Humanistik. Terapi eksistensi berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu siterm teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.
Menurut pandangan eksistensial, manusia mampu akan dirinya sendiri, yaitu kapasitas yang membedakan diri kita dengan makhluk lain. Kita adalah makhluk bebas yang bertanggung jawab dalam memilih cara hidup kita, sehingga nasib kita berada di tangan kita sendiri.
Menurut kartini kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi eksistensial humanistik adalah salah satu psikoterapi yang menekankan pengalaman subyektif individual kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk menentukan satu arah baru dalam hidup.
Sedangkan menurut W.S Winkel, Terapi Eksistensial Humanistik adalah Terapi yang menekankan implikasi - implikasi dan falsafah hidup dalam menghayati makna kehidupan manusia di bumi ini. Terapi Eksistensial Humanistik berfokus pada situasi kehidupan manusia dialam semesta, yang mencakup tanggung jawab pribadi, kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin.
2.        Proses Terapi Eksistensial
Pendekatan eksistensial pada dasarnya tidak memiliki perangkat teknis yang siap pakai seperti kebanyakan pendekatan lainya. Pendekatan ini bisa menggunakan beberapa teknik dan konsep psikoanalitik, juga bisa menggunakan teknik kognitif-behavioral. Metode yang berasal dari Gestalt dan analis Transaksional pun sering digunakan. Akan tetapi pada intinya, teknik dari pendekatan ini adalah penggunaan kemampuan dari pribadi terapis itu sendiri.Terdapat beberapa tahap yang dapat dilakukan oleh terapis dalam terapi eksistensial antara lain :
a.       Tahap pendahuluan
Terapis membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka  tentang  dunia. Klien  diajak  untuk mendefinisikan  dan menayakan  tentang  cara mereka memandang  dan menjadikan eksistensi mereka  bisa diterima. Mereka meneliti nilai mereka, keyakinan, serta asumsi  untuk  menentukan  kesalahannya.  Bagi  banyak  konseli  hal  ini bukan  pekerjaan  yang  mudah,  oleh  karena  itu  awalnya  mereka memaparkan problema mereka. Terapis  disini  mengajarkan  mereka bagaimana caranya untuk bercermin pada eksistensi mereka sendiri dan meneliti peranan mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup.
b.      Tahap tengah
Klien  didorong  semangatnya  untuk  lebih  dalam  lagi meneliti  sumber dan otoritas dari sistem nilai mereka.  Proses eksplorasi  diri  ini  biasanya membawa  klien  ke  pemahaman  baru  dan  berapa  restrukturisasi  dari nilai dan  sikap mereka. Klien mendapat cita rasa yang lebih baik akan jenis  kehidupan  macam  apa  yang  mereka  anggap  pantas.  Mereka mengembangkan  gagasan  yang  jelas  tentang  proses  pemberian  nilai internal mereka.

c.       Tahap terakhir
Berfokus  pada  menolong  klien  untuk  bisa melaksanakan apa yang  telah mereka pelajari  tentang diri mereka sendiri. Sasaran  terapi  adalah  memungkinkan  klien  untuk  bisa  mencari  cara mengaplikasikan  nilai  hasil  penelitian  dan  internalisasi  dengan  jalan kongkrit. Biasanya klien menemukan  jalan mereka untuk menggunakan kekuatan  itu  demi  menjalani  konsistensi  kehidupannya  yang  memiliki tujuan.
3.        Kelebihan Terapi Eksistensial
a.       Dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
b.      Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
c.       Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa
4.        Kekurangan Terapi Eksistensial
a.       Tidak memiliki teknik yang tegas dalam pelaksanaannya.
b.      Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
c.       Cukup memakan banyak waktu
5.        Contoh Penerapan Terapi Eksistensial
Leon seorang mahasiswa, mungkin melihat dirinya sebagai dokter masa depan, tetapi  nilainya yang dikeluarkan dari sekolah kedokteran ternyata dibawah rata-rata. Perbedaan antara dengan apa Leon melihat dirinya (konsep diri) atau bagaimana ia ingin melihat dia (ideal konsep diri) dan realitas kinerja akademis yang buruk dapat menyebabkan kegelisahan dan kerentanan pribadi, yang dapat memberikan motivasi yang diperlukan untuk masuk terapi.
Leon harus melihat bahwa ada masalah atau tidak pada dirinya. Leon pesimis untuk menghadapai penyesuaian psikologis untuk mengeksplorasi perubahan dirinya. Konseling berlangsung, klien dapat mengeksplorasi lebih luas keyakinannya dan perasaan (Rogers, 1967). Mereka dapat mengekspresikan ketakutan mereka, rasa bersalah kecemasan, malu, kebencian, kemarahan, dan lain sebagainya. emosi telah dianggap terlalu negatif untuk menerima dan memasukkan ke dalam diri mereka. Dengan terapi, orang disortir kurang dan pindah ke penerimaan yang lebih besar dan integrasi perasaan yang saling bertentangan dan membingungkan. Mereka semakin menemukan aspek dalam diri mereka yang telah disimpan tersembunyi.
Sebagai klien merasa dimengerti dan diterima, mereka menjadi kurang defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman mereka. Karena mereka merasa lebih aman dan kurang rentan, mereka menjadi lebih realistis, menganggap orang lain dengan akurasi yang lebih besar, dan menjadi lebih mampu untuk memahami dan menerima orang lain. Individu dalam terapi datang untuk menghargai diri mereka lebih seperti mereka, dan perilaku mereka menunjukkan lebih banyak fleksibilitas dan kreativitas. Mereka menjadi kurang peduli tentang memenuhi harapan orang lain, dan dengan demikian mulai berperilaku dengan cara yang lebih benar untuk diri mereka sendiri. Mereka bergerak ke arah yang lebih berhubungan dengan apa yang mereka alami pada saat ini, kurang terikat oleh masa lalu, kurang ditentukan, lebih bebas untuk membuat keputusan, dan semakin percaya diri masuk untuk mengelola kehidupan mereka sendiri.
Dari contoh kasus Leon dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu alasan klien mencari terapi adalah perasaan tidak percaya diri, dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau secara efektif mengarahkan hidup mereka sendiri. Leon diarahkan supaya melihat kepotensian diri dia yang sebenarnya, terapi difokuskan ke saat yang sekarang agar Leon dapat melanjtukan hidupnya.
Dari contoh kasus tersebut inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapi yang kapasitas untuk sadar akan dirinya, meningkatkan kesadaran diri yang memotivasi atau mempengaruhi seseorang dan tujuan hidup individu itu (Baldwin, 1987).
C.    Terapi Pembentukan Perilaku Model
1.        Pengertian Pembentukan Perilaku Model
Terapi perilaku (Behaviour therapy, behavior modification) adalah pendekatan untuk psikoterapi yang didasari oleh Teori Belajar (learning theory) yang bertujuan untuk menyembuhkan psikopatologi seperti; depression, anxiety disorders, phobias.  Perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku baru pada klien, menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan atau memperkuat perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, baik menggunakan model audio, model fisik, atau lainnya yang dapat diamati dan dipahami jenis perilaku yang akan dicontoh.
Terdapat beberapa teori dasar mengenai metode terapi perilaku, yaitu :
a.       Perilaku maladaptif dan kecemasan persisten telah dibiasakan (conditioned) atau dipelajari (learned).
b.      Terapi  untuk perilaku maladaptif adalah dengan penghilangan kebiasaan (deconditioning) atau ditinggalkan (unlearning).
c.       Untuk menguatkan perilaku adalah dengan pembiasaan perilaku (operant and clasical conditioning).
2.        Proses Pembentukan Perilaku Model
a.       Memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment
Yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia pada kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosesur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive
b.      Terlibat dalam pemberian penguatan-penguatan sosial
Terapis harus terlibat dalam pemberian penguatan-penguatan sosial, baik yang positif maupun yang negatif. Bahkan meskipun, mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang netral sehubungan dengan pertimbangan-pertimbangan nilai, terapis membentuk tingkah laku klien, baik melalui cara-cara langsung maupun cara-cara tidak langsung.
c.       Penguat bagi tingkah laku klien
Peran mengendalikan tingkah laku klien yang dimainkan oleh terapis melalui penguatan menjangkau situasi di luar terapi serta dimasukan ke dalam tingkah laku klien dalam dunia nyata: “terapis mengganjar respon-respon tertentu yang dilaporkan telah ditampilkan oleh klien dalam situasi-situasi kehidupan nyata dan menghukum respon-respon yang lainnya. Ganjaran-ganjaran itu adalah  persetujuan, minat, dan keprihatinan, perkuatan semacam itu penting terutama pada periode ketika klien mencoba respon-respon atau tingkah laku baru yang belum secara tetap diberi perkuatan oleh orang lain dalam kehidupan klien”.
Salah satu penyebab munculnya hasil yang tidak memuaskan adalah bahwa terapis tidak cukup memperkuat tingkah laku yang baru dikembangkan oleh klien
d.      Model bagi klien
Bandura menunjukan bahwa sebagian besar proses belajar yang melalui pengalaman langsung juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain. Ia mengungkapkan bahwa salah satu proses fundamental yang memungkinkan klien bisa mempelajari tingkah laku baru adalah imitasi atau percontohan sosial yang disajikan oleh terapis.
Terapis sebagai pribadi menjadi model yang penting bagi klien. Karena klien sering memandang terapis sebagai orang yang patut diteladani, klien acap kali meniru sikap-sikap, nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan dan tingkah laku terapis. Jadi, terapis harus menyadari peranan penting yang dimainkannya dalam proses identifikasi.
3.        Kelebihan Pembentukan Perilaku Model
a.       Terapis tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui stimulasi.
b.      Proses terapi berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati dan jika terjadi kesalahan harus segera diperbaiki.
c.       Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
4.        Kekurangan Pembentukan Perilaku Model
a.       Terjadinya proses terapi yang bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, terapis melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari oleh klien
b.      Klien dipandang pasif, diperlukan motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan dari terapis
c.       Klien hanya mendengarkan penjelasan dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.
5.        Contoh Penerapan Pembentukan Perilaku Model
Cocok diterapkakn untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian.

Dapat dikendalikan melalui cara mengganti mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya

REFERENSI
A. King, Laura. (2010). Psikologi umum: sebuah pandangan apresiatif. Jakarta: Salemba Humanika.
Bertens, K. (2006). Psikoanalisis sigmund freud. Jakarta: PT Gramedia.
Corey, Gerald. (2009). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
Gunarsa, S.D. (1996). Terapi dan psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami dasar-dasar konseling dalam Teori dan Praktik.  Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Misiak, henryk. (2005). Psikologi fenomenologi, eksistensial dan humanistic. Bandung: PT Rafika Aditama