DEFINISI TES PSIKOLOGI
1. Tes Psikologi adalah Suatu pengukuran yang standar dan objektif terhadap
sampel perilaku.
2. Tes Psikologi merupakan suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui
upaya yang sistematik untuk mengungkap aspek aspek psikologi tertentu dari
individu.
3. Tes Psikologi merupakan seperangkat alat ukur yang digunakan untuk
memperolleh informasi tentang pikiran, perasaan, persepsi, dan perilaku
seseorang guna membuat keputusan penilaian tentang seseorang.
4. Tes Psikologi adalah tes untuk mengukur aspek individu secara psikis. Tes
dapat berbentuk tertulis, visual, atau evaluasi secara verbal yang
teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional. Tes dapat
diaplikasikan kepada anak-anak maupun dewasa.
JENIS-JENIS TES PSIKOLOGI
1. Tes Intelegensi
a. Pengertian Intelegensi
Intelegensi mengandung tiga aspek kemampuan, yaitu:
- Kemampuan untuk memusatkan kepada suatu masalah yang harus dipecahkan. Orang
dengan intelegensi tinggi akan cenderung untuk memusatkan pikiran pada
penyelesaian satu masalah sebelum beralih ke masalah lain, sedangkan orang
dengan intelegensi rendah akan mudah berpindah dari masalah satu ke masalah
lain.
- Kemampuan untuk melakukan adaptasi terhadap masalah yang dihadapinya. Orang
yang inteligen akan dapat melihat bermacam-macam kemungkinan di dalam
memecahkan suatu masalah.
- Kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalahnya maupun terhadap
dirinya sendiri.
b. Alat Ukur Intelegensi
Intelegensi bisa diukur dengan menggunakan beberapa jenis tes intelegensi,
antara lain: WAIS, WISC, WPPSI, Tes Binet, SPM, CPM, APM, CFIT, K-ABC, PPVT,
KIT, IST, LIPS, dan lain-lain. Alat tes intelegensi juga dibedakan berdasarkan
usia testee, bersifat kelompok atau individual.
c. Intelligence Quotient (IQ) Test
Orang seringkali menyamakan arti intelegensi dengan IQ, padahal kedua istilah
tersebut mempunyai perbedaan arti yang amat mendasar. IQ merupakan skor yang
diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Alat tes untuk mengukur intelegensi
seseorang disebut dengan IQ Test.
2. Tes Bakat
Pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang pandai di
bidang bahasa, namun kurang dalam bidang matematika. Ada yang mampu di bidang
musik, namun lemah dalam bidang teknik. Kemampuan yang berbeda-beda ini kurang
bisa dijelaskan oleh konsep IQ. Dua orang dengan IQ yang sama (misalnya 100),
tapi individu yang satu ternyata lebih mampu dalam bidang sains (Kimia,
Matematika, Fisika), sedangkan individu yang lainnya lebih mampu dalam bidang
ilmu sosial. Hal inilah yang kemudian lebih dijelaskan dalam konsep bakat.
Bakat merupakan kemampuan-kemampuan khusus individu yang merupakan potensi dan
dapat berubah menjadi prestasi melalui latihan-latihan yang dilakukannya. Individu
yang dianggap berbakat dalam satu bidang karena prestasinya yang menonjol
merupakan hasil interaksi dari faktor bawaan dan belajar.
Tes Bakat dilakukan dengan tujuan yang berkaitan dengan bidang pendidikan dan
industri. Dalam bidang pendidikan, dengan mengetahui bakat siswa maka ia dapat
diarahkan sesuai dengan bakatnya tersebut agar siswa dapat mencapai prestasi
sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Hasil tes bakat sangat bermanfaat
khususnya pada saat penjurusan, baik di SMA maupun SMK, dan untuk menentukan
pilihan fakultas/jurusan yang diinginkan di perguruan tinggi.
Dalam bidang industri, bakat seseorang perlu diketahui apakah ia tepat
menduduki jabatan tertentu. Hasil tes bakat bisa membantu suatu perusahaan atau
lembaga untuk menempatkan karyawan atau calon karyawan pada posisi yang sesuai
dengan kualifikasi yang dibutuhkan.
Tes Bakat terdiri dari beberapa jenis, antara lain DAT, GATB, dan FACT. Tes
Bakat digunakan untuk mengukur aspek-aspek, antara lain: kemampuan berfikir,
bekerja dengan angka, penalaran, visualisasi, kemampuan bahasa, penalaran di
bidang mekanik, kecepatan respon, dan sebagainya.
3. Tes Kepribadian
Kepribadian adalah organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam diri
individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungan. Kata
dinamis berarti bahwa kepribadian bisa berubah.
Pengukuran kepribadian bukanlah berarti menerapkan label nilai-nilai moral,
melainkan lebih untuk mendeskripsikan perilaku seperti apa adanya. Metode
pengukuran kepribadian antara lain melalui observasi, inventori, dan teknik
proyektif.
Aspek-aspek yang diukur dalam tes kepribadian antara lain pengendalian diri,
kepercayaan diri, hubungan interpersonal, komitmen, optimisme, kemandirian,
motivasi berprestasi, daya tahan terhadap stress, dan penyesuaian diri.
4. Tes Minat
Minat menunjukkan keinginan individu untuk melakukan sesuatu secara mendalam.
Dalam pandangan psikologi, minat dan bakat berkorelasi positif, namun skor yang
tinggi pada bakat belum tentu menghasilkan skor yang tinggi pula pada minat.
Misalnya, seseorang dengan bakat yang tinggi dalam satu bidang belum tentu
memiliki minat untuk menekuni bidang tersebut, dan sebaliknya, individu yang
menunjukkan minat tinggi pada musik, misalnya, belum tentu memiliki bakat yang
cukup pada bidang tersebut. Pengukuran kedua jenis variabel ini (minat dan
bakat) akan menghasilkan prediksi yang lebih efektif bagi suatu kinerja,
daripaa hanya mengetahui salah satunya saja.
Tes minat banyak digunakan untuk keperluan seleksi di dunia kerja, dan juga
untuk pemilihan jurusan di bidang pendidikan, baik di SMA, SMK, maupun
perguruan tinggi. Tes minat dilakukan untuk memperkirakan minat individu dalam
berbagai bidang pekerjaan, antara lain: outdoor, mekanik, komputasi,
keilmiahan, persuasi, artistik, kesastraan, musik, klerikal, pelayanan sosial.
BENTUK-BENTUK TES PSIKOLOGI
1. Tes prestatif (populer: tes IQ): terdiri dari serangkaian persoalan yang
sudah teruji validitas (kesahihan) dan reliabilitas (kehandalan)-nya untuk
mengukur kemampuan umum maupun khusus seseorang.
2. Tes proyektif (tes gambar, tes ceritera, melengkapi kalimat dsb.): dasarnya
adalah teori proyeksi (Psikoanalisis) yang menyatakan bahwa kondisi kejiwaan
seseorang dapat diproyeksikan kepada rangsang (stimulus) di luar.
3. Tes inventori (formulir pertanyaan): dasarnya adalah anggapan bahwa yang
paling tahu tentang kepribadian seseorang adalah orang itu sendiri. Karena itu
dibuat serangkaian pertanyaan (biasanya dengan system multiple choice) untuk
mengukur sikap, sifat, minat dsb.
SYARAT-SYARAT TES PSIKOLOGI
1. Pembakuan (standarisasi)
a. Pelaksanaan dan penskoran adalah sama pada setiap saat digunakan. Dan ini
berarti ada norma-norma yang tersedia. Seharusnya seperangkat petunjuk
pelaksanaan dan seharusnya diikuti dengan tepat pada setiap kali tes
dilaksanakan. Lingkungan fisik, material, dan perlengkapan harusnya tetap sama.
Pensekoran harusnya tes harusnya menggunakan seperangkat jawaban yang telah
ditetapkan sebelumnya.
b. Melibatkan penetapan norma-norma untuk memberi arti terhadap suatu skor
dalam kaitanya dengan beberapa referensi pokok. Tujuanya adalah agar setiap
testi mendapat perlakuan yang sama.
2. Keobjektifan
Yang berarti bahwa pensekoran adalah bebas dari kesubjektifan opini pemberi
skor. Pada suatu tes objektif , pengambilan tes seharusnya memperoleh skor yang
sama dari pemberi skor yang berbeda. Dengan tujuan agar bias, opini,
sikap-sikap, dll tidak mempengaruhi hasilnya. Tipe tes objektif paling lazim
adalah berisi pertanyaan multiple choise. Lainya adalah true or false.
3. Reabilitas
Memberi hasil yang sama pada percobaan yang dilakukan berulang-ulang. Conny
Semiawan mengunkapkan bahwa pengertian reabilitas menunjuk pada ketetapan
(konsistensi) dari nilai-nilai yang diperoleh sekelompok individu dalam
kesempatan yang berbeda dengan tesyang sama atau ekuivalen. Hal ini didasari
dari kesalahan ukuran yang mungkin terjadi pada nilai tunggal tertentu,
sehingga susunan (urutan) dari kelompok tersebut berubah. Suatu tes yang
reliable akan menghasilkan suatu hasil yang konsisten dengan percobaan yang
telah dilakukan secara berulang-ulang atau dalam kesempatan yang berbeda dengan
tes yang sama maupun item yang ekuivalen.
Ada 4 cara pokok dalam menentukan reabilitas tes, yaitu:
a. Test-Retest
Mengulang tes yang sama dalam kesempatan berikutnya. Tes yang memiliki
reabilitas untuk beberapa bulan belum tentu memiliki reabilitas untuk bebrapa
tahun. berikut hal yang perlu diingat pada retest;
- Bila jangka waktu antar tes sering dilakukan latihan maka hasil tes
berikutnya dapat menjadi lebih baik. Terutama jika tes dapat dilakukan dalam
jangka waktu pendek, testi mungkin masih mengingatnya. Sehingga tes tersebut
dapat saling bergantung, dan korelasi nilai akan amat tinggi.
- Tes akan berubah dengan sendirinya pada saat pengulangan. Biasanya terjadi
pada soal yang perlu pemahaman. Bila mudah dipahami maka tak sukar untuk
memperoleh jawaban.
b. Ekuivalen (pararel)
Dua konselor menguji masing-masing tes dan menganggap bahwa tersebut seimbang.
Masing-masing berisi proporsi item yang sama dengan tingkat kesukaran yang
sama. jika skor sama pada kedua tes, dapat dikatakan korelasi akan tinggi.
Koefesien reabilitas akan menjadi suatu koefesien ekuivalensi dimana taraf
kedua bentuk tes yang sama adalah setara.
c. Split-Half
Membagi salah satu tes menjadi dua bagian yang sama, masing-masing memiliki
jumlah item yang sama, setiap tes memiliki proporsi item yang sama, tingkat
kesulitan yang sama, dan daya beda yang sama. Kita dapat memberi tes bagian I
pada hari pertama dan tes II pada saat tes berikutnya.
d. Kuder-Richardson
metode ini menggunakan penghitungan statistik pada setiap item dan hasil-hasil
koefesien.
4. Validitas
Kualitas terpenting dalam suatu tes. Validitas berarti mengukur apa yang
seharusnya diukur. Merujuk pada pengertian apakah hasil tes sesuai dengan yang
dirumuskan dan telah sampai mana tes itu telah mengukurnya.
Tiga kategori validitas tes yaitu:
a. Validitas konten/ Face Validity/ Sampling validity/ Factorial validity
Bertujuan untuk menguji sifat-sifat atau isi tes. Bentuk tes ini mengukur
sampai dimana seseorang menguasai suatu kemampuan khususnya setelah memperoleh
pelajaran tertentu. Validitas konten bertujuan untuk menganalisadan memahami
proses psikologis yang mempengaruhi terwujudnya prestasi itu.
b. Validitas kriterion
Suatu relasi berada diantara hasil-hasil tes dan beberapa perilaku lainnya yang
dikenal dengan kriterion. Suatu kriterion yang dikehendaki terjadi dalam
lapangan konseling karir adalah job performance. Skor tes calon dikorelasikan
dengan suatu ukuran job performance. Ada 2 cara pokok yang bisa dilakukan;
- Prediktif = Ini digunakan apabila pertama mengumpulkan data tes, dan
berikutnya dikumpulkan data (dalam kelompok yang sama) kriterion(job
performance). Korelasi antara kedua kumpulan data ini adalah suatu ukuran
validitas prediktif. jika penilaian validitas adalah baik, maka hasil-hasil tes
ini dapat digunakan untuk memprediksi kriterion job performance. Dan tes itu
memiliki validitas prediktif.
- Konkurensi = jika data tes dan data kriterion dikumpulkan pada saat yang
sama, dan hasilnya dikorelasikan maka kita telah menetapkan validitas
konkurensi tes. Validitas suatu tes ditera dengan tolok ukur tes yang lain.
Jika tolok ukurnya sama maka disebut “congruent validity”. Jika tolok ukurnya
beda disebut “concurrent validity”. “Criterion” yang digunakan untuk
memvalidasi tes yang dicoba harus valid dan reliable. Tipe validitas ini paling
lazim digunakan daripada yang validitas prediktif.
c. Validitas konstruk
Validasinya dilakukan dengan mengkumulasikan traits yang diukur oleh tes yang
bersangkutan (Soe Biono 1983). Ada langkah yang kompleks untuk menilai traits
semacam itu melalui metode validasi konstruk. Tema yang paling sering adalah
mempertimbangkan motivasi yang diberikan kepada individu. Kemudian dihubungkan
dengan keberhasilan dalam bidang lain. Validitas konstruk tes untuk membantu
memprediksi keberhasilan tahap lanjutan.
TUJUAN TES PSIKOLOGI
Tes Psikologi digunakan untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam
kemampuan secara mental dan apa-apa yang mendukungnya, termasuk prestasi dan
kemampuan, kepribadian, intelegensi, atau bahkan fungsi neurologis.
APLIKASI TES PSIKOLOGI
Tes Psikologi dapat dilakukan pada bermacam setting termasuk rekrutmen dalam
perusahaan, mengetahui minat dan bakat anak / siswa, tujuan klinis,
perkembangan anak, atau kustomisasi design dan modul dalam pelatihan / training
1. Keperluan Industri
Diaplikasikan dalam perekrutan karyawan, eskalasi dan mutasi karyawan, atau
sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Apapun jenis usaha anda, pemeriksaan
psikologis dapat dilakukan secara kelompok (klasikal) atau individual.
2. Keperluan Pendidikan
Jasa pemeriksaan psikologis juga meliputi Pengukuran, Bimbingan konseling, dan
Pelatihan untuk pendidikan. Dari mulai Playgroup, TK, SD, SMP, dan SMU. Arah
pemeriksaan dapat ditujukan untuk mengukur intelegensi (IQ), arah minat dan
bakat, keajegan belajar, konsentrasi, kematangan emosional, interaksi sosial,
kepercayaan diri, dan lain sebagainya.
3. Keperluan Management Training
Tes psikologi juga dapat dilakukan untuk memetakan kebutuhan secara organisasi
atau individu dalam pelatihan manajemen. Biasanya diaplikasikan kedalam bentuk
Outbound Management Training atau In Class Training. Sifat pelatihan ini
terukur, karena menyertakan psikotes dalam pre-test dan post-test. Tujuan
pelatihan ini bersifat team building dan organisasi untuk peningkatan skill
leadership, communication skills, planning, change management, delegation,
teamwork, dan motivation, atau apa saja sesuai kebutuhan.
Kelebihan pelatihan ini, seluruh aspek perilaku dan kebutuhan akan diungkap
melalui psikotes, dan modul design akan diterapkan sesuai dengan kebutuhan yang
muncul dari hasil psikotes tersebut.
sumber:
Anastasi, A & Urbina. (2007).
Tes Psikologi. Jakarta: PT Indeks.
Effendi, U & Praja J.S. (1993).
Pengantar Psikologi. Bandung: Angkasa
Purwanto, N. (2011). Psikologi
Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sobur. (2010). Psikologi Umum.
Bandung: CV Pustaka Setia