Senin, Oktober 16, 2017

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA: Brantas Buta Aksara!




PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
Brantas Buta Aksara!

BIDANG KEGIATAN:
PKM PENGABDIAN MASYARAKAT

DIUSULKAN OLEH:
1. NADA FITRIA SIREGAR (14515899)
2. TETY TRIANA (16515857)
3. ATHIRA NOVIA PUTRI (11515111)
4. FADIAH NURINDAH SARI (12515351)

UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2017


PENGESAHAN USULAN PKM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

1. Judul Kegiatan         : Brantas Buta Aksara!
2. Bidang Kegiatan         : PKMM – Pendidikan
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap         : Nada Fitria Siregar
b. NIM                 : 14515899
c. Program Studi                 : Psikologi
d. Perguruan Tinggi                 : Universitas Gunadarma
e. Alamat Rumah dan No Tel/Hp : Padurenan, Cibinong – Bogor (087721603520)
f. Alamat Email                 : -
4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 3 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar         :
b. NIDN                 :
c. Alamat Rumah dan No Tel/Hp :
6. Biaya Kegiatan Total
a. Dikti                 : Rp 4.586.000
b. Sumber lain                 : Rp.-
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : 1 Bulan

Jakarta, 15 Oktober 2017

       Menyetujui,
    Wakil Dekan III                                                                 Ketua Pelaksan Kegiatan

Nada Fitria Sirega
NIP/NIK                                                                                        NIM 14515859



     Wakil Rektor III                                                                  Dosen Pendamping




        NIP/NIK                                                                                NIDN


BAB 1 PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang  
Dewasa ini dan di era globalisasi ini sudah tidak pantas lagi masyakat Indonesia tidak bisa baca tulis karena pemerintah Indonesia sudah menggalangkan banyak dana untuk hal tersebut, tapi pertanyaan besar bagi kita apakah pemerintah sudah benar-benar menjalankan hal itu sebagaimana mestinya ? hal itu menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Indonesia pada umumnya karena program pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa dan memberantas masyarakat yang tidak bisa membaca sudah dari dulu menjadi keinginan yang diimpi-impikan oleh semua pihak.
Salah satu aspek penentu dalam keberhasilan pembangunan suatu bangsa adalah dilihat dari   tingkat   keaksaraan   penduduknya,   yaitu   dimana   kebutahurupan   merupakan   salah   satu indikator untuk menetapkan tingkat pembangunan sumber daya manusia/Indek Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Indeks (HDI). Berdasarkan hasil penilaian program pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 2002, bahwa Indonesia tingkat HDI/IPMnya menduduki peringkat ke 110 di bawah Vietnam (109), Cina (96), Filipina (77), Thailand (70), dan Malaysia (59). Ini artinya di kawasan Asia Tenggara saja bangsa Indonesia menduduki peringkat terakhir dari negara-negara yang di survey oleh badan dunia tersebut. Hal tersebut sesuai berdasarkan hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000 bahwa penduduk Indonesia yang masih menyandang buta huruf ada sejumlah 18.682.765 orang, dimana sebanyak 5.956.462 orang berusia 10 – 44 tahun dan diantara angka tersebut 64,07 % adalah perempuan. Sebetulnya jumlah orang yang  buta huruf tersebut merupakan modal potensial pembangunan bangsa, apabila dibina dan dididik atau dibelajarkan melalui program Keaksaraan Fungsional. Hal  ini bukan  berarti pemerintah dan masyarakat tidak memberikan pelayanan pendidikan   pada   mereka.   Banyal   hal   yang   mempengaruhi   mengapa   timbulnya   sebagian masyarakat yang buta huruf, diantaranya : 
a.       Tiap tahun masih banyak anak yang putus sekolah dasar kelas I, II dan III sehingga menjadi buta huruf kembali.
b.      Masih ada warga masyarakat yang karena berbagai hal, tidak dapat mengikuti sekolah terutama dikarenakan faktor ekonomi dan geografis.
c.        Adanya sebagian masyarakat yang buta huruf kembali dikarenakan kurang intensif dalam pemeliharaan keaksaraannya.
d.       Akibat resesi ekonomi yang melanda negara kita, mengakibatkan jumlah penduduk miskin
bertambah jumlahnya, kemiskinan akan menimbulkan kebodohan dan rendahnya kedewasaan dalam berfikir dan bertindak, sehingga manfaat dan keyakinan akan pentingnya pendidikan (khususnya  dalam membaca, menulis dan berhitung) terabaikan.
Oleh karena itu program brantas buta aksara adalah salah satu langkah untuk menekan penderita buta aksara di Indonesia.
1.2 Perumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui program ini pada dasarnya tidak lepas dari ruang lingkup permasalahan di atas, yaitu:
1. Bagaimana memberikan penyuluhan akan pentingnya baca tulis kepada masyarakat?
2. Bagaimana memberikan pemahaman pentingnya membrantas buta aksara kepada masyarakat?
3. Bagaimana memberikan pengajaran mengenai buta aksara?

1.3 Potret, Profil dan Kondisi Khalayak Sasaran
Kata 'lio' identik dengan tempat pembakaran bata merah atau pembuatan gerabah. Di kawasan Bandung raya, lokasi bernama lio masih bisa ditemukan, terutama di wilayah pinggirannya. Nama tersebut tetap lekat dengan aktivitas para perajin tanah liat. Ternyata, lio juga menjadi nama tempat di Kota Depok. Kampung Lio, begitu masyarakat Depok mengenalnya. Kampung tersebut berada di Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas. Ada empat RW yang masuk wilayahnya.
Lokasi kampung ini diapit Kantor Pemerintah Kota Depok dan Situ Rawa Besar. Nama Lio mengundang kepenasaran Pikiran Rakyat. Apakah penamaan tersebut terkait aktivitas kerajinan tanah liat? Pasalnya, tak terlihat jejak bangunan lio ataupun kegiatan warga mengolah tanah liat di tempat tersebut. ‎
Kampung Lio telah menjadi pemukiman padat yang dihuni ribuan warga. Gang-gang sempit kampung menjelma labirin yang dinaungi tembok bangunan. Rasa penasaran tersebut terjawab saat Pikiran Rakyat bertemu Ketua RW 13 Rohili (47) di kediamannya, Senin 11 September 2017.
Rohili merupakan warga Betawi asli yang lahir dan besar di Kampung Lio. Dia mengonfirmasi, kampung itu merupakan sentra kerajinan tanah liat Depok di masa lalu.
Mulanya, tutur Rohili, kemampuan mengolah tanah menjadi kerajinan berasal dari para pendatang‎. "Awalnya dulu dari engkong (kakek) saya, bahwa waktu itu ada orang luar datang ke Depok sini," ujarnya.
Dalam tradisi kampung di masa lalu, para pendatang yang memiliki urusan di Depok diperbolehkan tinggal di rumah warga. Mereka bahkan dijamu makan dan minum oleh warga. Rasa terima kasih membuat pendatang mengajarkan keterampilan mengolah tanah liat kepada warga.
Asal para pendatang itu tak jelas benar. Rohili menduga mereka masih warga pribumi yang bermukim di wilayah yang berdekatan dengan Depok seperti Bekasi.
Kemampuan membuat kerajinan menyebar kepada warga lainnya. Warga yang hanya memanfaatkan lahannnya guna bertani akhirnya beralih membuat gerabah, bata merah, sampai genting. Dari sana, tutur Rohili, munculah Lio - Lio sebagai tempat produksi kerajinan tanah liat. Tempat produksi sangat sederhana hanya berupa gubuk berdinding bilik yang berdiri di dekat Situ Rawa Besar. 
Rohili kecil masih sempat menyaksikan aktivitas sang kakek membuat kerajinan tanah. Air situ dialirkan ke kobakan atau empang para perajin untuk keperluan tersebut. Produk-produk tanah liat dipasarkan di wilayah Depok hingga Jakarta.
"Dulu ngangkutnya pakai roda (gerobak) sapi," ucapnya.
Untuk pemasaran lokal, kerajinan Kampung Lio diminati juga orang-orang Belanda di Depok. Kerajinan warga digunakan sebagai bahan bangunan mereka karena kualitasnya yang kuat.
"Kalau genting aslinya (produksi Kampung Lio) jatuh, tidak pecah," tutur Rohili.
Produk kerajinan-kerajinan itu kuat dan tahan lama karena melewati proses pembakaran. "Pembakaran sampai merah," ucapnya.
Keberadaan Kampung Lio sebagai lokasi industri gerabah turut disinggung Sejarawan Universitas Indonesia Tri Wahyuning M Irsyam dalam bukunya Berkembang dalam Bayang Bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950-1990-an.
Tri menjelaskan, Lio memang dihuni orang-orang kampung dengan latar belakang etnik Sunda, Jawa dan Betawi. Orang-orang Kampung Lio sejak dulu  dikenal  bekerja di industri gerabah.
Sementara itu, Pengurus Bidang Sejarah dan Aset Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, Ferdy Jonathans (63) punya kisah lain yang melengkapi sejarah Kampung Lio. Kemampuan warga mengolah tanah menjadi kerajinan, menurut Ferdy, diajarkan oleh Cornelis Chastelein, pemilik tanah Depok sekaligus mantan tenaga pembukuan VOC.
"Di Situ Rawa Besar dibuatlah pabrik bata, pemiliknya kaum Depok lama," kata Ferdy. Kaum Depok lama adalah eks budak Chastelein yang dimerdekakan tuannya pada 1714.
Aktivitas kerajinan itu dimulai pada 1800-an. Sedangkan pembuatan pabrik pada 1900-an. Kaum Depok lama pun mempekerjakan warga kampung sekitar. Produk - produk yang dihasilkan berupa genteng, bata, ubin, tembikar. 
Situ Rawa Besar dipilih karena kualitas tanah liatnya yang bagus. Ferdy menambahkan, beberapa warga kaum Depok lama yang mengelola usaha kerajinan tanah itu adalah JM Jonathans, Sam Loen dan Edi Laurens. Namun, perkembangan produksi gerabah, bata merah Kampung Lio meredup pada 1960-an.
Selain munculnya berbagai bahan bangunan baru yang bukan bersumber dari tanah liat, keberadaan lio-lio pun tergusur pemukiman warga. "Warga main bangun saja," ujar Ferdy. Gubuk - gubuk Lio pun lenyap dan hanya menyisakan sebuah nama kampung. Generasi Kampung Lio masa kini pun jarang mewarisi  keterampilan leluhurnya mengolah tanah liat.


1.4 Tujuan
Adapun tujuan dari PKM ini adalah 
1. Memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya baca tulis
2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai baca tulis
3. Membantu pemerintah menekan angka buta aksara di Indonesia


BAB 2 GAMBARAN UMUM MASYARAKAT





BAB 3 METODE PELAKSANAAN

Metode pengembangan yang akan dilaksanakan merupakan sebuah rangkaian tahapan yang disusun secara sistematis, sebagai berikut:
1.      Penetapan daerah sasaran
2.      Meninjau beberapa lokasi
3.      Melakukan pengamatan terhadap masyarakat sasaran
4.      Penyususan materi ntuk penyuluhan dan pengajaran buta aksara
5.      Jadwal penyuluhan dan pengajaran
6.      Izin pelaksanaan untuk penyuluhan dan pengajaran
7.      Sosialisasi program kepada masyarakat
8.      Pelaksanaan program dan penyuluhan

9.      Laporan akhir



BAB 4 BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
1.1  Anggaran Biaya

No
Uraian
Biaya
1
Peralatan Penunjang
Rp 596.000
2
Bahan Habis Pakai
Rp 2.850.000
3
Perjalanan
Rp 380.000
4
Lain-lain
Rp 760.000
Jumlah
Rp 4.586.000

1.2  Jadwal Kegiatan
No
Kegiatan
Oktober
November
Desember
Januari
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Penetapan daerah sasaran
















2
Survei daerah sasaran
















3
Observasi Lapangan
















4
Penyusunan Materi
















5
Rencana Penyuluhan
















6
Izin Pelaksanaan
















7
Sosialisasi Program
















8
Pelaksanaan Program
















9
Pengontrolan
















1o
Laporan Akhir
































Lampiran 1
Biodata Ketua, Anggota dan Dosen Pembimbing

a.      Identitas Diri
1.
Nama Lengkap
Nada Fitria Siregar
2.
Jenis Kelamin
Perempuan
3.
Program Studi
Psikologi
4.
NIM
14515899
5.
TTL
Bogor, 7 Maret 1997
6.
Email
-
7.
No Telp
-

b.      Riwayat Pendidikan

SD
SMP
SMA
Nama Institusi
Ciriung 01
SMPN 2 Cibinong
SMA YPHB Bogor
Jurusan
-
-
IPA
Tahun Masuk Lulus
2003 – 2009
2009 - 2012
2012 – 2015

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalh benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan PKM Pegabdian Masyarakat.

                                                                  Jakarta, 15 Oktober 2017


Pengusul
Nada Fitria Siregar
c.       Identitas Diri
1.
Nama Lengkap
Tety Triana
2.
Jenis Kelamin
Perempuan
3.
Program Studi
Psikologi
4.
NIM
16515859
5.
TTL
Jakarta, 23 Desember 1996
6.
Email
-
7.
No Telp
-

d.      Riwayat Pendidikan

SD
SMP
SMA
Nama Institusi
SDN Pondok Ranggon 01
SMPN 9 Jaktim
SMAN 105 Jaktim
Jurusan
-
-
IPA
Tahun Masuk Lulus
2003 - 2009
2009 - 2012
2012 – 2015

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalh benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan PKM Pegabdian Masyarakat.

Jakarta, 15 Oktober 2017


Pengusul
Tety Triana
e.       Identitas Diri
1.
Nama Lengkap
Athira Novia Putri
2.
Jenis Kelamin
Perempuan
3.
Program Studi
Psikologi
4.
NIM
11515111
5.
TTL
Yogyakarta, 14 November 1997
6.
Email
-
7.
No Telp
-

f.       Riwayat Pendidikan

SD
SMP
SMA
Nama Institusi
SD Pemuda Bangsa
SMP Al Azhar Syifa Budi Cibinong
MAN 7 Jakarta
Jurusan
-
-
IPS
Tahun Masuk Lulus
2003 - 2009
2009 - 2012
2012 – 2015

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalh benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan PKM Pegabdian Masyarakat.

Jakarta, 15 Oktober 2017


Pengusul
Athira Novia Putri
g.      Identitas Diri
1.
Nama Lengkap
Fadiah Nurindah Sari
2.
Jenis Kelamin
Perempuan
3.
Program Studi
Psikologi
4.
NIM
12515351
5.
TTL
Jakarta, 7 Juni 1997
6.
Email
-
7.
No Telp
-

h.      Riwayat Pendidikan

SD
SMP
SMA
Nama Institusi
SDN Warakas 01
SMPN 95 Jakarta
SMAN 80 Jakarta
Jurusan
-
-
IPA
Tahun Masuk Lulus
2003 - 2009
2009 - 2012
2012 – 2015

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalh benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan PKM Pegabdian Masyarakat.

Jakarta, 15 Oktober 2017


Pengusul
Fadiah Nurindah Sari



Lampiran 2
Anggaran Kegiatan
1.      Peralatan Penunjang
Material
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga Satuan
Total
Papan Tulis
Penunjang Pelaksanaan Program
2
Rp 100.000
Rp 200.000
Penghapus Papan Tulis
Penunjang Pelaksanaan Program
2
Rp 20.000
Rp 40.000
Spidol
Penunjang Pelaksanaan Program
4
Rp 8.000
Rp 32.000
Buku
Penunjang Pelaksanaan Program
36
Rp 3.000
Rp 108.000
Pensil
Penunjang Pelaksanaan Program
36
Rp 4.000
Rp 144.000
Penghapus
Penunjang Pelaksanaan Program
36
Rp 2.000
Rp 72.000

2.      Bahan Habis Pakai
Material
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga Satuan
Total
Materi Penyuluhan
Diberikan kepada masyarakat
20
Rp 50.000
Rp 1.250.000
Snack
Penunjang Pelaksanaan Program
40
Rp 15.000
Rp 600.000
Lunch Box
Penunjang Pelaksanaan Program
40
Rp 25.000
Rp 1.000.000



3.      Perjalanan
Material
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga Satuan
Total
Perjalanan Pembelian Alat Tulis
Penunjang Pelaksanaan Program
4
Rp 20.000
Rp 80.000
Perjalanan Pengambilan Lunch Box dan Snack
Penunjang Pelaksanaan Program
4
Rp 50.000
Rp 200.000
Perjalanan Melakukan Penyuluhan
Penunjang Pelaksanaan Program
4
Rp 25.000
Rp 100.000

4.      Lain lain
Material
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga Satuan
Total
Kertas Bola Dunia 1 RIM
Penunjang Pelaksanaan Program
2
Rp 50.000
Rp 100.000
Jilid Laporan
Biaya untuk menjilid
2
Rp 5.000
Rp 10.000
Tinta Hitam
Biaya untuk mencetak
3
Rp 75.000
Rp 225.000
Tinta Warna
Biaya untuk mencetak
3
Rp 75.000
Rp 225.000
Dokumentasi dan Pembuatan Laporan
Biaya untuk pembuatan laporan
1
Rp 200.000
Rp 200.000








Lampiran 3
Susunan Organisasi TIM
No
Nama
Program Studi
Uraian Tugas
1.
Nada Fitria Siregar
Psikologi
Sie Kordinator Lapangan
2.
Tety Triana
Psikologi
Sie Acara
3.
Athira Novia Putri
Psikologi
Sie Humas
4.
Fadiah Nurindah Sari
Psikologi
Sie Konsumsi