PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
Brantas Buta Aksara!
BIDANG KEGIATAN:
PKM PENGABDIAN MASYARAKAT
DIUSULKAN OLEH:
1. NADA FITRIA SIREGAR (14515899)
2. TETY TRIANA (16515857)
3. ATHIRA NOVIA PUTRI (11515111)
4. FADIAH NURINDAH SARI (12515351)
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2017
1. Judul Kegiatan : Brantas Buta Aksara!
2. Bidang Kegiatan : PKMM – Pendidikan
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Nada Fitria Siregar
b. NIM : 14515899
c. Program Studi : Psikologi
d. Perguruan Tinggi : Universitas Gunadarma
e. Alamat Rumah dan No Tel/Hp : Padurenan, Cibinong – Bogor (087721603520)
f. Alamat Email : -
4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 3 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar :
b. NIDN :
c. Alamat Rumah dan No Tel/Hp :
6. Biaya Kegiatan Total
a. Dikti : Rp 4.586.000
b. Sumber lain : Rp.-
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : 1 Bulan
Jakarta, 15 Oktober 2017
Menyetujui,
Wakil Dekan III Ketua Pelaksan Kegiatan
Nada Fitria Sirega
NIP/NIK NIM 14515859
Wakil Rektor III Dosen Pendamping
NIP/NIK NIDN
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini dan di era globalisasi ini sudah tidak pantas lagi masyakat Indonesia tidak bisa baca tulis karena pemerintah Indonesia sudah menggalangkan banyak dana untuk hal tersebut, tapi pertanyaan besar bagi kita apakah pemerintah sudah benar-benar menjalankan hal itu sebagaimana mestinya ? hal itu menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Indonesia pada umumnya karena program pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa dan memberantas masyarakat yang tidak bisa membaca sudah dari dulu menjadi keinginan yang diimpi-impikan oleh semua pihak.
Salah satu aspek penentu dalam keberhasilan pembangunan suatu bangsa adalah dilihat dari tingkat keaksaraan penduduknya, yaitu dimana kebutahurupan merupakan salah satu indikator untuk menetapkan tingkat pembangunan sumber daya manusia/Indek Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Indeks (HDI). Berdasarkan hasil penilaian program pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 2002, bahwa Indonesia tingkat HDI/IPMnya menduduki peringkat ke 110 di bawah Vietnam (109), Cina (96), Filipina (77), Thailand (70), dan Malaysia (59). Ini artinya di kawasan Asia Tenggara saja bangsa Indonesia menduduki peringkat terakhir dari negara-negara yang di survey oleh badan dunia tersebut. Hal tersebut sesuai berdasarkan hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000 bahwa penduduk Indonesia yang masih menyandang buta huruf ada sejumlah 18.682.765 orang, dimana sebanyak 5.956.462 orang berusia 10 – 44 tahun dan diantara angka tersebut 64,07 % adalah perempuan. Sebetulnya jumlah orang yang buta huruf tersebut merupakan modal potensial pembangunan bangsa, apabila dibina dan dididik atau dibelajarkan melalui program Keaksaraan Fungsional. Hal ini bukan berarti pemerintah dan masyarakat tidak memberikan pelayanan pendidikan pada mereka. Banyal hal yang mempengaruhi mengapa timbulnya sebagian masyarakat yang buta huruf, diantaranya :
a. Tiap tahun masih banyak anak yang putus sekolah dasar kelas I, II dan III sehingga menjadi buta huruf kembali.
b. Masih ada warga masyarakat yang karena berbagai hal, tidak dapat mengikuti sekolah terutama dikarenakan faktor ekonomi dan geografis.
c. Adanya sebagian masyarakat yang buta huruf kembali dikarenakan kurang intensif dalam pemeliharaan keaksaraannya.
d. Akibat resesi ekonomi yang melanda negara kita, mengakibatkan jumlah penduduk miskin
bertambah jumlahnya, kemiskinan akan menimbulkan kebodohan dan rendahnya kedewasaan dalam berfikir dan bertindak, sehingga manfaat dan keyakinan akan pentingnya pendidikan (khususnya dalam membaca, menulis dan berhitung) terabaikan.
Oleh karena itu program brantas buta aksara adalah salah satu langkah untuk menekan penderita buta aksara di Indonesia.
1.2 Perumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui program ini pada dasarnya tidak lepas dari ruang lingkup permasalahan di atas, yaitu:
1. Bagaimana memberikan penyuluhan akan pentingnya baca tulis kepada masyarakat?
2. Bagaimana memberikan pemahaman pentingnya membrantas buta aksara kepada masyarakat?
3. Bagaimana memberikan pengajaran mengenai buta aksara?
1.3 Potret, Profil dan Kondisi Khalayak Sasaran
Kata 'lio' identik dengan tempat pembakaran bata merah atau pembuatan gerabah. Di kawasan Bandung raya, lokasi bernama lio masih bisa ditemukan, terutama di wilayah pinggirannya. Nama tersebut tetap lekat dengan aktivitas para perajin tanah liat. Ternyata, lio juga menjadi nama tempat di Kota Depok. Kampung Lio, begitu masyarakat Depok mengenalnya. Kampung tersebut berada di Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas. Ada empat RW yang masuk wilayahnya.
Lokasi kampung ini diapit Kantor Pemerintah Kota Depok dan Situ Rawa Besar. Nama Lio mengundang kepenasaran Pikiran Rakyat. Apakah penamaan tersebut terkait aktivitas kerajinan tanah liat? Pasalnya, tak terlihat jejak bangunan lio ataupun kegiatan warga mengolah tanah liat di tempat tersebut.
Kampung Lio telah menjadi pemukiman padat yang dihuni ribuan warga. Gang-gang sempit kampung menjelma labirin yang dinaungi tembok bangunan. Rasa penasaran tersebut terjawab saat Pikiran Rakyat bertemu Ketua RW 13 Rohili (47) di kediamannya, Senin 11 September 2017.
Rohili merupakan warga Betawi asli yang lahir dan besar di Kampung Lio. Dia mengonfirmasi, kampung itu merupakan sentra kerajinan tanah liat Depok di masa lalu.
Mulanya, tutur Rohili, kemampuan mengolah tanah menjadi kerajinan berasal dari para pendatang. "Awalnya dulu dari engkong (kakek) saya, bahwa waktu itu ada orang luar datang ke Depok sini," ujarnya.
Dalam tradisi kampung di masa lalu, para pendatang yang memiliki urusan di Depok diperbolehkan tinggal di rumah warga. Mereka bahkan dijamu makan dan minum oleh warga. Rasa terima kasih membuat pendatang mengajarkan keterampilan mengolah tanah liat kepada warga.
Asal para pendatang itu tak jelas benar. Rohili menduga mereka masih warga pribumi yang bermukim di wilayah yang berdekatan dengan Depok seperti Bekasi.
Kemampuan membuat kerajinan menyebar kepada warga lainnya. Warga yang hanya memanfaatkan lahannnya guna bertani akhirnya beralih membuat gerabah, bata merah, sampai genting. Dari sana, tutur Rohili, munculah Lio - Lio sebagai tempat produksi kerajinan tanah liat. Tempat produksi sangat sederhana hanya berupa gubuk berdinding bilik yang berdiri di dekat Situ Rawa Besar.
Rohili kecil masih sempat menyaksikan aktivitas sang kakek membuat kerajinan tanah. Air situ dialirkan ke kobakan atau empang para perajin untuk keperluan tersebut. Produk-produk tanah liat dipasarkan di wilayah Depok hingga Jakarta.
"Dulu ngangkutnya pakai roda (gerobak) sapi," ucapnya.
Untuk pemasaran lokal, kerajinan Kampung Lio diminati juga orang-orang Belanda di Depok. Kerajinan warga digunakan sebagai bahan bangunan mereka karena kualitasnya yang kuat.
"Kalau genting aslinya (produksi Kampung Lio) jatuh, tidak pecah," tutur Rohili.
Produk kerajinan-kerajinan itu kuat dan tahan lama karena melewati proses pembakaran. "Pembakaran sampai merah," ucapnya.
Keberadaan Kampung Lio sebagai lokasi industri gerabah turut disinggung Sejarawan Universitas Indonesia Tri Wahyuning M Irsyam dalam bukunya Berkembang dalam Bayang Bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950-1990-an.
Tri menjelaskan, Lio memang dihuni orang-orang kampung dengan latar belakang etnik Sunda, Jawa dan Betawi. Orang-orang Kampung Lio sejak dulu dikenal bekerja di industri gerabah.
Sementara itu, Pengurus Bidang Sejarah dan Aset Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, Ferdy Jonathans (63) punya kisah lain yang melengkapi sejarah Kampung Lio. Kemampuan warga mengolah tanah menjadi kerajinan, menurut Ferdy, diajarkan oleh Cornelis Chastelein, pemilik tanah Depok sekaligus mantan tenaga pembukuan VOC.
"Di Situ Rawa Besar dibuatlah pabrik bata, pemiliknya kaum Depok lama," kata Ferdy. Kaum Depok lama adalah eks budak Chastelein yang dimerdekakan tuannya pada 1714.
Aktivitas kerajinan itu dimulai pada 1800-an. Sedangkan pembuatan pabrik pada 1900-an. Kaum Depok lama pun mempekerjakan warga kampung sekitar. Produk - produk yang dihasilkan berupa genteng, bata, ubin, tembikar.
Situ Rawa Besar dipilih karena kualitas tanah liatnya yang bagus. Ferdy menambahkan, beberapa warga kaum Depok lama yang mengelola usaha kerajinan tanah itu adalah JM Jonathans, Sam Loen dan Edi Laurens. Namun, perkembangan produksi gerabah, bata merah Kampung Lio meredup pada 1960-an.
Selain munculnya berbagai bahan bangunan baru yang bukan bersumber dari tanah liat, keberadaan lio-lio pun tergusur pemukiman warga. "Warga main bangun saja," ujar Ferdy. Gubuk - gubuk Lio pun lenyap dan hanya menyisakan sebuah nama kampung. Generasi Kampung Lio masa kini pun jarang mewarisi keterampilan leluhurnya mengolah tanah liat.
1.4 Tujuan
Adapun tujuan dari PKM ini adalah
1. Memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya baca tulis
2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai baca tulis
3. Membantu pemerintah menekan angka buta aksara di Indonesia
BAB 2 GAMBARAN UMUM MASYARAKAT
BAB 3 METODE PELAKSANAAN
Metode pengembangan yang
akan dilaksanakan merupakan sebuah rangkaian tahapan yang disusun secara
sistematis, sebagai berikut:
1.
Penetapan
daerah sasaran
2.
Meninjau
beberapa lokasi
3.
Melakukan
pengamatan terhadap masyarakat sasaran
4.
Penyususan
materi ntuk penyuluhan dan pengajaran buta aksara
5.
Jadwal
penyuluhan dan pengajaran
6.
Izin
pelaksanaan untuk penyuluhan dan pengajaran
7.
Sosialisasi
program kepada masyarakat
8.
Pelaksanaan
program dan penyuluhan
9.
Laporan
akhir
BAB 4 BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
1.1 Anggaran
Biaya
|
No
|
Uraian
|
Biaya
|
|
1
|
Peralatan
Penunjang
|
Rp 596.000
|
|
2
|
Bahan
Habis Pakai
|
Rp 2.850.000
|
|
3
|
Perjalanan
|
Rp 380.000
|
|
4
|
Lain-lain
|
Rp 760.000
|
|
Jumlah
|
Rp 4.586.000
|
|
1.2 Jadwal
Kegiatan
|
No
|
Kegiatan
|
Oktober
|
November
|
Desember
|
Januari
|
||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Penetapan daerah sasaran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Survei
daerah sasaran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Observasi
Lapangan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Penyusunan Materi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Rencana Penyuluhan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Izin Pelaksanaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Sosialisasi Program
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Pelaksanaan
Program
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Pengontrolan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1o
|
Laporan Akhir
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Lampiran 1
Biodata Ketua, Anggota dan Dosen Pembimbing
a. Identitas
Diri
|
1.
|
Nama
Lengkap
|
Nada Fitria Siregar
|
|
2.
|
Jenis
Kelamin
|
Perempuan
|
|
3.
|
Program
Studi
|
Psikologi
|
|
4.
|
NIM
|
14515899
|
|
5.
|
TTL
|
Bogor, 7 Maret 1997
|
|
6.
|
Email
|
-
|
|
7.
|
No Telp
|
-
|
b. Riwayat
Pendidikan
|
|
SD
|
SMP
|
SMA
|
|
Nama
Institusi
|
Ciriung
01
|
SMPN 2
Cibinong
|
SMA
YPHB Bogor
|
|
Jurusan
|
-
|
-
|
IPA
|
|
Tahun
Masuk Lulus
|
2003 –
2009
|
2009 - 2012
|
2012 –
2015
|
Semua data yang saya isikan
dan tercantum dalam biodata ini adalh benar dan dapat dipertanggung jawabkan
secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan
kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan
sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan PKM Pegabdian
Masyarakat.
Jakarta,
15 Oktober 2017
Pengusul
Nada
Fitria Siregar
c. Identitas
Diri
|
1.
|
Nama
Lengkap
|
Tety Triana
|
|
2.
|
Jenis
Kelamin
|
Perempuan
|
|
3.
|
Program
Studi
|
Psikologi
|
|
4.
|
NIM
|
16515859
|
|
5.
|
TTL
|
Jakarta, 23 Desember 1996
|
|
6.
|
Email
|
-
|
|
7.
|
No Telp
|
-
|
d. Riwayat
Pendidikan
|
|
SD
|
SMP
|
SMA
|
|
Nama
Institusi
|
SDN
Pondok Ranggon 01
|
SMPN 9
Jaktim
|
SMAN
105 Jaktim
|
|
Jurusan
|
-
|
-
|
IPA
|
|
Tahun
Masuk Lulus
|
2003 -
2009
|
2009 -
2012
|
2012 –
2015
|
Semua data yang saya isikan
dan tercantum dalam biodata ini adalh benar dan dapat dipertanggung jawabkan
secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan
kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan
sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan PKM Pegabdian
Masyarakat.
Jakarta,
15 Oktober 2017
Pengusul
Tety
Triana
e. Identitas
Diri
|
1.
|
Nama
Lengkap
|
Athira Novia Putri
|
|
2.
|
Jenis
Kelamin
|
Perempuan
|
|
3.
|
Program
Studi
|
Psikologi
|
|
4.
|
NIM
|
11515111
|
|
5.
|
TTL
|
Yogyakarta, 14 November 1997
|
|
6.
|
Email
|
-
|
|
7.
|
No Telp
|
-
|
f. Riwayat
Pendidikan
|
|
SD
|
SMP
|
SMA
|
|
Nama
Institusi
|
SD
Pemuda Bangsa
|
SMP Al
Azhar Syifa Budi Cibinong
|
MAN 7
Jakarta
|
|
Jurusan
|
-
|
-
|
IPS
|
|
Tahun
Masuk Lulus
|
2003 -
2009
|
2009 -
2012
|
2012 –
2015
|
Semua data yang saya isikan
dan tercantum dalam biodata ini adalh benar dan dapat dipertanggung jawabkan
secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan
kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan
sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan PKM Pegabdian
Masyarakat.
Jakarta,
15 Oktober 2017
Pengusul
Athira
Novia Putri
g. Identitas
Diri
|
1.
|
Nama
Lengkap
|
Fadiah Nurindah Sari
|
|
2.
|
Jenis
Kelamin
|
Perempuan
|
|
3.
|
Program
Studi
|
Psikologi
|
|
4.
|
NIM
|
12515351
|
|
5.
|
TTL
|
Jakarta, 7 Juni 1997
|
|
6.
|
Email
|
-
|
|
7.
|
No Telp
|
-
|
h. Riwayat
Pendidikan
|
|
SD
|
SMP
|
SMA
|
|
Nama
Institusi
|
SDN
Warakas 01
|
SMPN 95
Jakarta
|
SMAN 80
Jakarta
|
|
Jurusan
|
-
|
-
|
IPA
|
|
Tahun
Masuk Lulus
|
2003 -
2009
|
2009 -
2012
|
2012 –
2015
|
Semua data yang saya isikan
dan tercantum dalam biodata ini adalh benar dan dapat dipertanggung jawabkan
secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan
kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan
sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan PKM Pegabdian
Masyarakat.
Jakarta,
15 Oktober 2017
Pengusul
Fadiah
Nurindah Sari
Lampiran 2
Anggaran Kegiatan
1. Peralatan
Penunjang
|
Material
|
Justifikasi Pemakaian
|
Kuantitas
|
Harga Satuan
|
Total
|
|
Papan Tulis
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
2
|
Rp 100.000
|
Rp 200.000
|
|
Penghapus Papan Tulis
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
2
|
Rp 20.000
|
Rp 40.000
|
|
Spidol
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
4
|
Rp 8.000
|
Rp 32.000
|
|
Buku
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
36
|
Rp 3.000
|
Rp 108.000
|
|
Pensil
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
36
|
Rp 4.000
|
Rp 144.000
|
|
Penghapus
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
36
|
Rp 2.000
|
Rp 72.000
|
2. Bahan
Habis Pakai
|
Material
|
Justifikasi Pemakaian
|
Kuantitas
|
Harga Satuan
|
Total
|
|
Materi Penyuluhan
|
Diberikan kepada masyarakat
|
20
|
Rp 50.000
|
Rp 1.250.000
|
|
Snack
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
40
|
Rp 15.000
|
Rp 600.000
|
|
Lunch Box
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
40
|
Rp 25.000
|
Rp 1.000.000
|
3. Perjalanan
|
Material
|
Justifikasi Pemakaian
|
Kuantitas
|
Harga Satuan
|
Total
|
|
Perjalanan Pembelian Alat Tulis
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
4
|
Rp 20.000
|
Rp 80.000
|
|
Perjalanan Pengambilan Lunch Box dan Snack
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
4
|
Rp 50.000
|
Rp 200.000
|
|
Perjalanan Melakukan Penyuluhan
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
4
|
Rp 25.000
|
Rp 100.000
|
4. Lain
lain
|
Material
|
Justifikasi Pemakaian
|
Kuantitas
|
Harga Satuan
|
Total
|
|
Kertas Bola Dunia 1 RIM
|
Penunjang Pelaksanaan Program
|
2
|
Rp 50.000
|
Rp 100.000
|
|
Jilid Laporan
|
Biaya untuk menjilid
|
2
|
Rp 5.000
|
Rp 10.000
|
|
Tinta Hitam
|
Biaya untuk mencetak
|
3
|
Rp 75.000
|
Rp 225.000
|
|
Tinta Warna
|
Biaya untuk mencetak
|
3
|
Rp 75.000
|
Rp 225.000
|
|
Dokumentasi dan Pembuatan Laporan
|
Biaya untuk pembuatan laporan
|
1
|
Rp 200.000
|
Rp 200.000
|
Lampiran 3
Susunan Organisasi TIM
|
No
|
Nama
|
Program Studi
|
Uraian Tugas
|
|
1.
|
Nada Fitria Siregar
|
Psikologi
|
Sie Kordinator Lapangan
|
|
2.
|
Tety Triana
|
Psikologi
|
Sie Acara
|
|
3.
|
Athira Novia Putri
|
Psikologi
|
Sie Humas
|
|
4.
|
Fadiah Nurindah Sari
|
Psikologi
|
Sie Konsumsi
|




